Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengajarkan kepada kita dalam situasi seperti ini hal-hal yang memberikan kesembuhan dan meringankan, di dalamnya juga terkandung pahala dan balasan, hal yang demikian adalah merupakan rahmat Allah untuk umat-Nya yang di berkahi, dan bentuk kepedulian Nabi shallallahu ‘alaih wasallam kepada umat-nya, sebagaiamana digambarkan oleh Allah ta’ala dalam firman-Nya:
لَقَدْ جَاءكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءوفٌ رَّحِيمٌ
التوبة/128
(Sungguh, benar-benar telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan (bersikap) penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin.)(QS. At-Taubah/9:128)
Dan diantara yang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ajarkan kepada kita adalah:
- Membaca al-Fatihah.
Dari Abu Sa'id al-Khudri radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, menerangkan bahwa Surat al-Fatihah sebagai ruqyah, dan beliau menyetujui sahabat yang menggunakannya untuk mengobati sengatan kalajengking atau sejenisnya. (HR. Al-Bukhari (2156) dan Muslim (2201).
Ibnul Qayyim berkata: "Suatu saat saya sakit di Mekah, dan saya tidak menemukan dokter atau obat, saya biasa mengobati diri sendiri dengan bacaan al-fatihah, saya mengambil seteguk air Zamzam, dan membaca al-fatihah diatasnya berulang-ulang, lalu saya meminumnya. Saya mendapati bahwa air itu memberikan kesembuhan total, dan kemudian saya mulai mengandalkannya untuk banyak penyakit, dan saya betul-betul mendapatkan banyak manfaat darinya." Akhir kutipan"Zad al-Ma'ad" (4/164).
- Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:
أَنَّ رَسُولَ اللّهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اشتَكَى مِنَّا إِنسَانٌ مَسَحَهُ بِيَمِينِهِ ثُمَّ قَالَ : أَذهِبِ البَاسَ ، رَبَّ النَّاسِ ، وَاشفِ أَنتَ الشَّافِي ، لا شِفَاءَ إِلا شِفَاؤُكَ ، شِفَاءً لَا يُغَادِرُ سَقَمًا رواه البخاري (5675) ومسلم (2191) واللفظ له
“ketika salah seorang di antara kami mengeluh sakit, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengusapnya dengan tangan kanannya, lalu bersabda: "Angkatlah penyakit itu, wahai Rabb seluruh manusia, dan sembuhkanlah, karena Engkau Maha Penyembuh. Tidak ada kesembuhan kecuali kesembuhan-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit." (HR. Al-Bukhari (5675) dan Muslim (2191), dan ini adalah riwayat beliau.
- Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللّهِ صَلَّى اللّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ إِذَا مَرِضَ أَحَدٌ مِن أَهلِهِ نَفَثَ عَلَيهِ بِالمُعَوِّذاتِ ، فَلَمَّا مَرِضَ مَرَضَه الذي مَاتَ فِيهِ ، جَعَلتُ أَنفُثُ عَلَيهِ وَأَمسَحُ بِيَدِ نَفسِهِ ، لِأَنَّهَا كَانَت أَعظَمَ بَرَكَةً مِن يَدِي رواه البخاري (5735) ومسلم (2192) واللفظ له
“Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam jika salah seorang dari keluarganya sakit, maka beliau akan meniupnya dengan Al-Mu’awwizat (Surat Al-Ikhlas, Al-Falak, An-Nas). Dan ketika beliau menderita sakit yang menyebabkan beliau wafat, aku meniupkan kepadanya dan mengusapkannya dengan tangan beliau sendiri, karena itu lebih berkah dari pada tanganku”.(HR. Al-Bukhari (5735), dan Muslim (2192) dengan riwayat yang sama.
- dari 'Utsman bin Abu Al 'Ash Ats Tsaqafi bahwa dia mengadukan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam suatu penyakit yang dideritanya sejak ia masuk Islam. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya:
ضَع يَدَكَ عَلَى الذِي تَأَلَّم مِن جَسَدِكَ ، وَقُل : " بِاسمِ اللهِ " ثلاثًا ، وَقُل سَبعَ مَرَّاتٍ : " أَعُوذُ بِاللهِ وَقُدرَتِهِ مِن شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ رواه مسلم (2202
"Letakkan tanganmu di tubuhmu yang terasa sakit, kemudian ucapkan Bismillah tiga kali, sesudah itu baca tujuh kali: A'udzu billahi wa qudratihi min syarri ma ajidu wa uhadziru." (Aku berlindung kepada Allah dan kekuasaanNya dari penyakit yang aku derita dan aku cemaskan). (HR. Muslim (2202).)
- dari Abu Sa`id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, bahwa Jibril mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian berkata:
يَا مُحَمَّدُ ، آشتَكَيتَ ؟ فَقَالَ : نَعَم . فَقَالَ جِبرِيلُ عَلَيهِ السَّلامُ : بِاسْمِ اللهِ أَرقِيك ، مِن كُلِّ شَيْءٍ يُؤذِيك ، مِن شَرِّ كُلِّ نَفسٍ أَو عَينٍ حَاسِدٍ ، اللَّهُ يَشفِيكَ ، بِاسمِ اللَّهِ أَرقِيكَ . رواه مسلم (2186
"Hai Muhammad, apakah kamu sakit? Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: 'Ya. Aku sakit. Lalu Jibril meruqyah beliau dengan mengucapkan: 'Dengan nama Allah aku meruqyahmu dari segala sesuatu yang menyakitimu dan dari kejahatan segala makhluk atau kejahatan mata yang dengki. Allah lah yang menyembuhkanmu. Dengan nama Allah aku meruqyahmu.' (HR. Muslim (2186).)
- dari Abu Darda ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَنِ اشتَكَى مِنكُم شَيئًا أَو اشتَكَاهُ أَخٌ لَهُ فَليَقُلْ : رَبّنَا الَّلهُ الذِي فِي السَّمَاءِ ، تَقَدَّسَ اسمُكَ ، أَمرُكَ فِي السَّمَاءِ وَالأَرْضِ ، كَمَا رَحمَتُكَ فِي السَّمَاءِ فَاجْعَلْ رَحْمَتَكَ فِي الأَرْضِ ، اغفِر لَنَا حَوْبَنَا وَخَطَايَانَا ، أَنتَ رَبُّ الطَّيِّبِينَ ، أَنزِلْ رَحْمَةً مِن رَحمَتِكَ ، وَشِفَاءً مِن شِفَائِكَ عَلَى هَذَا الوَجَعِ ، فَيَبرَأ رواه أبو داود (3892) وصححه الحاكم في "المستدرك" (4/243) وحسنه ابن تيمية في "مجموع الفتاوى" (3/139
"Barangsiapa di antara kalian mengeluhkan sesuatu atau saudaranya mengeluhkannya, maka hendaknya ia mengucapkan: (Tuhanku adalah Allah yang berada di langit, Maha Suci nama-Mu, urusan-Mu berada di langit dan bumi. Sebagaimana rahmat-Mu berada di langit, maka jadikanlah rahmat-Mu berada di bumi! Ampunilah dosa dan kesalahan kami! Engkau Tuhan orang-orang yang baik, turunkan rahmat di antara rahmat-Mu, serta kesembuhan di antara kesembuhan-Mu kepada penyakit ini), maka ia akan sembuh." HR. Abu Dawud (3892), dan digolongan sohih oleh al-Hakim dalam “Al-Mustadrak” (4/243), dan digolongkan hasan oleh Ibnu Taimiyah dalam “Majmu’ al-fatawa” (3/139).
- dari Ibnu Abbas dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau berkata:
مَن عَادَ مَرِيضًا لَم يَحضُرْ أَجَلُهُ فَقَالَ عِندَهُ سَبعَ مِرَارٍ : أَسأَلُ الَّلهَ العَظِيمَ رَبَّ العَرشِ العَظِيمِ أَن يَشفِيَكَ ، إِلَّا عَافَاهُ الَّلهُ مِن ذَلِكَ المَرَضِ رواه أبو داود (3106) وصححه النووي في "الأذكار" (ص/180) والألباني في "صحيح أبي داود
"Barangsiapa yang mengunjungi orang sakit yang belum datang ajalnya kemudian ia mengucapkan (doa) di sebelahnya sebanyak tujuh kali: as alullaahal 'azhiim rabbal 'arsyil 'azhiim an yasyfiyaka (aku mohon kepada Allah yang Maha Agung, Tuhan Arsy yang Agung semoga Dia menyembuhkanmu). Maka Allah akan menyembuhkannya dari penyakit tersebut." HR. Abu Dawud (3106), digolongkan sahih oleh An-Nawawi dalam “Al-Adzkar” (hlm. 180) dan Al-Albani dalam “Sahih Abi Dawud”
Saat membaca ruqyah ini, usapkan tangan Anda ke wajah, dada, dan perutnya, sebagaimana yang biasa dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Anda juga harus mendekatkan kepala anak Anda agar napas Anda mencapainya saat anda membaca ruqyah. Tidak ada salahnya meniupkan sedikit nafas dengan lembut ke wajahnya selama ruqyah.
Ibnu Qayyim berkata: Ruqyah berasal dari hati dan mulut orang yang melakukan ruqyah. Jika ruqyah disertai dengan sesuatu dari batinnya, seperti air liur, udara, atau napas, maka efeknya lebih sempurna dan lebih kuat pengaruhnya. Akhir kutipan"Zad al-Ma'ad" (4/164).
Sebelum dan di atas semua itu: ketulus ikhlasan kepada Allah dalam berdoa, mengembalikan semua kepada-Nya dengan tulus, merendahkan diri di bawah pintu-pintu-Nya, dan mencari waktu-waktu dikabulkannya doa, karena sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala malu ketika seorang hamba menengadahkan tangannya dalam berdoa untuk kemudian kembali dengan kekecewaan. Janganlah terburu-buru berharap dikabulkan segera, karena Allah bisa saja menunda pertolongan-Nya untuk suatu alasan yang Dia ketahui. Berpegang teguh pada kesabaran dan keyakinan, dan ingatlah bahwa Nabi, shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
ادْعُو الَّلهَ وَأَنتُم مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ ، وَاعلَمُوا أَنَّ الَّلهَ لَا يَستَجِيبُ دُعَاءً مِن قَلبٍ غَافِلٍ لَاهٍ رواه الترمذي (3479) وحسنه الشوكاني في "تحفة الشاكرين" (68) والألباني في "السلسلة الصحيحة" (594
"Berdoalah kepada Allah sementara kamu yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai dan lengah." HR. al-Tirmidzi (3479) dan digolongkan hasan oleh al-Shawkaani dalam “Tuhfat al-Shakireen” (68) dan al-Albaani dalam “al-Silsilah al-Shahihah” (594).
Lihat pertanyaan No. ( 3476 ) ( 20176 ) ( 259398).
Wallahu a’lam.