Selasa 12 Dzulhijjah 1445 - 18 Juni 2024
Indonesian

Dalil Bahwa Keimanan itu Pengakuan Dengan Lisan, Keyakinan Dengan Hati, Dan Amaliyah Dengan Fisik

Pertanyaan

Kita para ahli sunnah wal jama’ah, berkata: “Iman itu pengakuan dengan hati, keyakinan dengan hati, amalan dengan fisik, lalu apa yang menjadi dalil dari Al Qur’an dan Sunnah dari pendapat ini ?

Ringkasan Jawaban

Para ulama ahlus sunnah telah melakukan ijma’ bahwa keimanan itu ucapan, amalan dan ucapan dengan lisan, dan keyakinan dengan hati, dan amalan dengan anggota fisik. Sandaran dari ijma’ ini adalah banyaknya teks-teks dari AL Qur’an dan Sunnah, yang menunjukkan bahwa bagian-bagian ini bagian dari iman, dan lihat rinciannya dari beberapa dalil di dalam jawaban yang rinci.

Alhamdulillah.

Keimanan adalah Ucapan, Amalan dan Keyakinan.

Ahlussunnah telah melakukan ijma’ bahwa iman itu adalah ucapan dan amal, atau ucapan dengan lisan, keyakinan dengan hati dan amal dengan perbuatan.

Imam Syafi’i –rahimahullah- berkata:

“Dan konsensus dari para sahabat dan para tabi’in dan siapa saja setelah mereka, dan orang-orang yang telah kami kenal, mereka berkata: “Iman itu, ucapan, amal dan niat, tidak sempurna satu dari ketiganya kecuali dengan yang lainnya”. Selesai. (Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah karya Al Lalikai: 5/956 nomor: 1593, Majmu’ Fatawa karya Ibnu Taimiyah: 7/209)

Al Bukhori –rahimahullah- berkata: “Saya telah menulis tentang 1.000 orang lebih para ulama, dan saya belum pernah menulis kecuali tentang seseorang yang berkata: “Iman itu ucapan, perbuatan dan saya belum pernah menulis orang yang berkata: “Iman itu ucapan saja”. Selesai. (Ushul I’tiqad Ahlis Sunnah wal jama’ah karya Al Lalika’i: 5/959, nomor:1597.

Abu Ubaid Al Qasim bin Salam –rahimahullah- berkata:
“Ini penamaan orang yang berkata: Iman adalah ucapan dan amal yang bertambah dan berkurang –dan dinamakan dengan 133 alam- kemudian ia berkata: “Mereka semuanya berkata: “Iman adalah ucapan dan amal, bertambah dan berkurang ini pendapat ahlus sunnah, dan itulah yang dilakukan dari kami. Dan petunjuk itu dari Allah”. (Dinukil dari Ibnu Batthah di dalam Al Ibanah: 2/814-826, nomor: 1117, dan Syeikh Islam sebagaimana di dalam Majmu’ Fatawa: 7/309)

Syeikh Ibnu Taimiyah –rahimahullah- berkata: “Dan telah diceritakan oleh lebih dari satu akan ijma’nya ahlus sunnah dan hadits bahwa iman itu ucapan dan amal”. Selesai. (Majmu’ Fatawa: 7/330)

Dalil-dalil Bahwa Iman itu Ucapan dan Amal

Dan yang menjadi sandaran ijma’ ini banyak nash dari Al Qur’an dan Sunnah yang menunjukkan bahwa bagian-bagian ini (ucapan dan amal) bagian dari iman, dan ada empat rincian:

  1. Ucapan lisan, yaitu; semua ketaatannya bagian dari iman, dan adapun berbicara dengan kata Islam: Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Muhammad adalah utusan Allah, maka termasuk dalam rukun iman, tidak kecuali dengannya.

Dan di antara dalil-dalil bahwa ucapan lisan dari iman: firman Allah Ta’ala:

قُولُوا آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ وَالْأَسْبَاطِ وَمَا أُوتِيَ مُوسَى وَعِيسَى وَمَا أُوتِيَ النَّبِيُّونَ مِنْ رَبِّهِمْ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

البقرة/ 136

“Katakanlah (hai orang-orang mukmin): "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya". (QS. Al Baqarah: 136)

Sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-:

أُمِرْتُ أَنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَمَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ فَقَدْ عَصَمَ مِنِّي نَفْسَهُ وَمَالَهُ إِلَّا بِحَقِّهِ وَحِسَابُهُ عَلَى اللَّهِ رواه البخاري (2946)، ومسلم (21) من حديث أبي هريرة

“Saya telah diperintah untuk memerangi manusia sampai mereka berucap “La ilaha illallah”, lalu barang siapa yang mengucapkan: “La ilaha illallah” maka ia telah terjaga dariku diri dan hartanya, kecuali dengan hak dan perhitungannya kepada Allah”. (HR. Bukhori: 2946 dan Muslim: 21 dari hadits Abu Hurairah)

Dan dari Abu Hurairah berkata: “Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ - أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ - شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ. رواه البخاري (9) ومسلم (35) واللفظ له.

“Iman itu ada 70 sekian (atau 60 sekian) cabang, yang paling utama adalah ucapan La Ilahaillallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan onak dari jalan, dan malu adalah bagian dari iman”. (HR. Bukhori: 9 dan Muslim: 35 dan redaksi ini miliknya)

  1. Ucapan dengan hati; yaitu; membenarkan dan yakin, dalilnya bahwa ucapan hati bagian dari iman adalah firman Allah Ta’ala:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

 الحجرات/15

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar”. (QS. Al Hujurat: 15)

            Dan sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- tentang iman:

أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ رواه مسلم (8) واللفظ له من حديث عمر، ورواه البخاري (50) من حديث أبي هريرة.

“Agar kamu beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, dan hari akhir, dan beriman kepada takdir baik dan buruknya”. (HR. Muslim: 8 dan redaksi ini dari beliau, dari hadits Umar, dan Bukhori: 50 dari hadits Abu Hurairah)

Dan sabda beliau dalam hadits syafa’at....

فَأَقُولُ يَا رَبِّ أُمَّتِي أُمَّتِي فَيَقُولُ انْطَلِقْ فَأَخْرِجْ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ أَدْنَى أَدْنَى أَدْنَى مِثْقَالِ حَبَّةِ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ فَأَخْرِجْهُ مِنْ النَّارِ فَأَنْطَلِقُ رواه البخاري (7510) ومسلم (193) من حديث أنس رضي الله عنه.

“Maka saya berkata: “Umatku-umatku”, lalu Dia berfirman: “Pergilah...carilah orang yang di dalam hatinya yang paling sedikit sebesar biji sawi keimanan, maka keluarkanlah dari neraka, lalu saya pergi”. (HR. Bukhori: 7510 dan Muslim: 193 dari hadits Anas –radhiyallahu ‘anhu-)

  1. Amalan hati; yaitu; keikhlasan dan keterikatan, takut dan harap dan cinta.

Yang menjadi dalil akan masuknya hal tersebut dalam keimanan adalah firman Allah Ta’ala:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (2) الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (3) أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

الأنفال/ 2- 4

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka”. (QS. Al Anfal: 2-4)

Dan Al Wajal ini adalah amalan hati

Dan sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-:

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ  )رواه البخاري (9)، ومسلم (35) واللفظ له، من حديث أبي هريرة.(

“Iman itu adalah 70 sekian atau 60 sekian cabang, yang paling utama adalah ucapan La ilahaillah dan yang peling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan raya, dan malu itu bagian dari iman”. (HR. Bukhori: 9, dan Muslim: 35 dan redaksinya milik beliau, dari hadits Abu Hurairah)

Malu ini termasuk amalan hati, dan hadits tersebut menunjukkan juga bahwa ucapan lisan, dan amalan fisik termasuk bagian iman . Dan telah dijelaskan sebelumnya.

Dan dari Anas bin Malik –radhiyallahu ‘anhu- dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ المَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ   رواه البخاري (16)، ومسلم (43).

“Ada tiga hal, barang siapa yang ada pada dirinya ia akan mendapatkan manisnya iman: hendaknya Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari pada selain keduanya, dan hendaknya mencintai seseorang, tidak mencintainya kecuali karena Allah, dan hendaknya membenci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci untuk dijebloskan ke neraka”. (HR. Bukhori: 16 dan Muslim: 43)

Dan sebagaimana diketahui bahwa cinta dan benci, bagian dari amal hati dan hadits ini telah mengganggapnya menjadi bagian dari iman, bahkan termasuk yang dirasakan oleh seorang hamba akan manisnya iman.

  1. Amalan fisik; dari thaharah, shalat, puasa, haji, jihad dan yang lainnya.

Dalil atas amalan fisik ini bagian dari keimanan adalah firman Allah Ta’ala:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

البينة/5

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus”. (QS. Al Bayyinah: 5)

Dan jihad termasuk bagian dari amalan fisik.

Contoh lain adalah firman Allah Ta’ala:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (2) الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ (3) أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ

كَرِيمٌ  الأنفال/ 2- 4.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka”. (QS. Al Anfal: 2-3)

Dan menegakkan shalat dan membayar zakat: termasuk amalan fisik dan telah dianggap di sini bagian dari keimanan.

Contoh lainnya adalah firman Allah Ta’ala:

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ

البقرة/143

“dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu”. (QS. Al Baqarah: 143)

Maksudnya adalah shalat kalian di Baitullah

Imam Bukhori –rahimahullah- telah menulis di dalam Shahihnya (1/16) atas ayat ini sebagai: “Bab: Shalat bagian dari iman”.

Dan di antaranya yang lain adalah sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- saat mengutus Abdul Qais:

آمُرُكُمْ بِالْإِيمَانِ بِاللَّهِ وَهَلْ تَدْرُونَ مَا الْإِيمَانُ بِاللَّهِ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَإِقَامُ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءُ الزَّكَاةِ وَتُعْطُوا مِنْ الْمَغْنَمِ الْخُمُسَ رواه البخاري (7556)، ومسلم (17) من حديث ابن عباس رضي الله عنهما.

“Aku menyuruh kalian untuk beriman kepada Allah, dan apakah kalian tahu apa itu iman kepada Allah ?, yaitu; bersyahadat bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, dan kalian memberikan ghanimah 1/5nya”. (HR. Bukhori: 7556 dan Muslim: 17 dari hadits Ibnu Abbas –radhiyallahu ‘anhuma-)

dan banyak dalil-dalil akan hal ini, dan telah terjadi konsensus sangat dikenal.

Wallahu A’lam

Refrensi: Soal Jawab Tentang Islam