Allah Ta’ala berfirman,
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ (53) وَأَنِيبُوا إِلَى رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ
الزمر/53-54.
“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Kembalilah kepada Tuhanmu dan berserahdirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak akan ditolong.” (QS. Az-Zumar : 53-54).
Saya sudah menerima pertanyaan Anda. Saya terkesan dengan keinginan Anda untuk bertaubat dan kembali kepada Allah, meskipun Anda melakukan semua hal terlarang, seperti yang Anda katakan. Dan yang lebih parah lagi, Anda meninggalkan shalat. Wahai anak muda yang bersemangat, semoga pintu taubat terbuka bagi Anda. Renungkanlah baik-baik apa yang disebutkan dalam dua ayat sebelumnya. Saya akan menyebutkan langkah-langkah praktis yang dengan jelas menunjukkan Anda bagaimana cara bertaubat, dengan izin Allah Ta’ala.
Kata taubat adalah kata yang agung dan memiliki pengertian yang mendalam. Tidak seperti yang disangka banyak orang, yaitu ungkapan lisan kemudian dilanjutkan dengan dosa. Renungkanlah firman Allah Ta’ala,
وَّاَنِ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوْبُوْٓا اِلَيْهِ
هود /3
“Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu kemudian bertaubatlah kepada-Nya.” (QS. Hud : 3).
Anda akan menemukan bahwa pertaubatan adalah perkara yang lebih dari sekadar Istighfar (memohon ampunan).
Karena suatu perkara besar pasti ada syaratnya. Maka para ulama telah menyebutkan syarat taubat yang diambil dari ayat dan hadits. Berikut ini beberapa di antaranya :
- Melepaskan diri dari dosa.
- Menyesali perbuatan dosa yang telah dilakukan.
- Bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.
- Mengembalikan hak-hak kepada orang yang dizalimi atau meminta pembebasan dari mereka.
Jangan lupa beberapa perkara penting lainnya dalam hal taubat Nasuha, di antaranya :
Pertama, meninggalkan dosa karena Allah, bukan karena suatu yang lain, seperti karena tidak mampu melakukan dosa atau karena tidak mampu meninggalkannya sebab sudah biasa, atau karena khawatir akan omongan manusia, misalnya.
Maka tidak dinamakan bertaubat orang yang meninggalkan dosa karena akan memengaruhi kedudukan dan reputasi di hadapan manusia, atau terkadang dipecat dari pekerjaan. Tidak disebut bertaubat orang yang meninggalkan dosa karena untuk menjaga kesehatan dan kekuatannya, seperti orang yang meninggalkan zina atau perbuatan nista karena penyakit menular yang mematikan, atau karena dosa itu melemahkan fisik dan ingatannya. Tidak dinamakan bertaubat orang yang tidak minum khamr (minuman keras) dan mengkonsumsi narkoba karena bisa menyebabkan bangkrut. Begitu pula tidak disebut bertaubat orang yang tidak mampu melakukan maksiat karena masalah yang berada di luar keinginannya, seperti seorang pendusta yang terkena lumpuh yang menghilangkan kemampuan berbicaranya, atau pezina yang ia kehilangan kemampuan untuk berjima’, atau pencuri yang mengalami kejadian yang menghilangkan jari-jari tangannya, akan tetapi haruslah menyesal dan melepaskan diri dari keinginan untuk bermaksiat atau menyesali perbuatan maksiat yang sudah dilakukannya. Atas dasar inilah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,
النَّدَمُ تَوْبَةٌ رواه أحمد وابن ماجه ، صحيح الجامع 6802 .
“Penyesalan itu adalah taubat.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah, Shahih Al-Jami’ no. 6802).
Kedua, merasakan keburukan dan bahaya dari dosa.
Ini artinya taubat yang benar tidak mungkin disertai dengan perasaan nikmat dan gembira ketika mengingat dosa-dosa yang sudah diperbuat atau berharap dapat kembali melakukan perbuatan itu di masa yang akan datang.
Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah menyebutkan bahaya-bahaya banyak dosa dalam kitabnya, Ad-Da’ wa Ad-Dawa’ wa Al-Fawa’id, di antaranya :
Menghalangi mendapat ilmu, mengeraskan hati, mempersulit semua urusan, melemahkan badan, terhalang untuk melakukan ketaatan, menghapus keberkahan, sedikit mendapat taufik, menyempitkan dada, melahirkan keburukan, membiasakan berbuat dosa, hina di hadapan Allah, merasa hina di hadapan manusia, dilaknat oleh hewan-hewan, diliputi kehinaan, tertutupnya hati dan terjatuh dalam laknat, terhalang dari terkabulnya doa, terjadi kerusakan di daratan dan lautan, hilangnya semangat, hilangnya rasa malu, hilangnya nikmat-nikmat Allah, turunnya siksa, terdapat ketakutan pada hati orang yang bermaksiat, terjerumus pada perangkap setan, su’ul khatimah dan mendapat azab di akhirat.
Pengetahuan terhadap bahaya-bahaya dosa ini akan membuat Anda menjauhi dosa secara total. Sebagian manusia terkadang berpindah melakukan satu maksiat ke maksiat satunya karena beberapa sebab, di antaranya :
- Meyakini bahwa ukurannya lebih ringan.
- Jiwa lebih cenderung kepada maksiat itu dan syahwatnya lebih kuat.
- Maksiat yang ini tergolong lebih mudah dari maksiat lainnya, berbeda dengan maksiat yang membutuhkan persiapan dan penyebabnya pun ada dan melimpah.
- Teman-temannya begitu teguh melakukan maksiat ini dan sulit baginya untuk meninggalkan mereka.
- Maksiat tertentu menjadikan seseorang berada dalam jabatan dan kedudukan sehingga seseorang merasa sulit untuk meninggalkan jabatan dan kedudukan ini sehingga ia terus-terusan bermaksiat.
Ketiga, segeralah bertaubat.
Oleh karena itulah, menunda taubat itu sendiri merupakan dosa yang perlu ditaubati.
Keempat, ketahuilah hak-hak Allah yang Anda lewatkan jika hal itu memungkinkan, seperti membayar zakat yang Anda tahan pada zaman dahulu karena memang juga merupakan hak bagi orang fakir.
Kelima, meninggalkan tempat maksiat, apabila keberadaan Anda di tempat itu menjerumuskan Anda ke dalam maksiat lagi.
Keenam, meninggalkan orang-orang yang membantu Anda untuk bermaksiat.
Allah berfirman,
الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ
الزخرف /67
“Teman-teman akrab pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali orang-orang yang bertakwa.” (QS. Az-Zukhruf : 67).
Teman-teman yang buruk akan melaknat satu sama lain kelak pada Hari Kiamat. Oleh sebab itulah, Anda sebagai orang yang bertaubat harus meninggalkan, mencampakkan, memboikot dan memberikan peringatan akan mereka jika Anda tidak mampu mendakwahi mereka. Jangan sampai setan menggoda dan membujuk Anda untuk kembali kepada mereka ketika Anda mendakwahi mereka, padahal Anda tahu bahwa Anda lemah dan tidak bisa membentengi diri dari mereka.
Ada banyak sekali kondisi di mana orang-orang kembali bermaksiat karena kembali berhubungan dengan teman-teman di masa lalu.
Ketujuh, menghancurkan barang-barang haram yang ada pada diri Anda, seperti minuman keras, alat-alat kesia-siaan seperti gendang, seruling, gambar, film haram dan novel-novel porno serta patung-patung. Harus dihancurkan atau dibakar.
Melepaskan seluruh pakaian Jahiliah saat ia berada di ambang keistikamahan untuk bertaubat merupakan persoalan yang harus dilakukan, karena betapa banyak cerita orang-orang yang betaubat ketika masih menyimpan hal-hal terlarang tersebut pada diri mereka menjadi alasan bagi mereka untuk kambuh lagi, berpaling dari taubat, dan tersesat lagi, setelah mereka mendapat petunjuk. Kami memohon keteguhan kepada Allah.
Kedelapan, memilih dari teman-teman yang baik (shalih) seseorang yang akan membantu Anda dan menjadi alternatif dari teman-teman yang buruk. Bersemangatlah untuk ikut di lingkaran-lingkaran (halaqah) dzikir dan majelis-majleis ilmu. Isilah waktu Anda dengan hal-hal yang bermanfaat, sehingga setan tidak mendapatkan ruang kosong di dalam diri Anda untuk mengingatkan Anda pada masa lalu.
Kesembilan, menyiapkan tubuh yang Anda besarkan dengan cara yang haram dengan cara menghabiskan tenaganya dalam ketaatan kepada Allah dan carilah yang halal sehingga tumbuh daging yang baik.
Kesepuluh, memperbanyak amal kebaikan, karena amal-amal kebaikan akan menghilangkan amal keburukan.
Dan jika Anda benar-benar bertaubat kepada Allah, maka bergembiralah. Segala keburukan yang dahulu akan berubah menjadi amal baik. Allah Ta’ala berfirman,
وَالَّذِيْنَ لَا يَدْعُوْنَ مَعَ اللّٰهِ اِلٰهًا اٰخَرَ وَلَا يَقْتُلُوْنَ النَّفْسَ الَّتِيْ حَرَّمَ اللّٰهُ اِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُوْنَۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ يَلْقَ اَثَامًا ۙ يُّضٰعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَيَخْلُدْ فِيْهٖ مُهَانًا ۙ اِلَّا مَنْ تَابَ وَاٰمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَاُولٰۤىِٕكَ يُبَدِّلُ اللّٰهُ سَيِّاٰتِهِمْ حَسَنٰتٍۗ وَكَانَ اللّٰهُ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا
“Dan, orang-orang yang tidak mempersekutukan Allah dengan sembahan lain, tidak membunuh orang yang diharamkan Allah kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Siapa yang melakukan demikian itu niscaya mendapat dosa. Baginya akan dilipatgandakan azab pada Hari Kiamat dan dia kekal dengan azab itu dalam kehinaan. Kecuali, orang yang bertobat, beriman, dan beramal saleh. Maka, Allah mengganti kejahatan mereka (dengan) kebaikan. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Furqan : 68-70).
Saya memohon kepada Allah agar memberi manfaat kepada Anda dengan kata-kata ini, dan membimbing hati Anda. Maka berdirilah sekarang, ucapkan dua kalimat syahadat. Sucikanlah diri Anda. Shalatlah sebagaimana yang diperintahkan Allah kepada Anda. Dan pertahankan kewajiban dan tinggalkan hal-hal yang terlarang. Saya akan merasa bahagia membantu Anda apabila Anda membutuhkan bantuan lain.
Saya memohon kepada Allah agar memberikan taufik kepada saya dan Anda pada sesuatu yang dicintai dan diridhai-Nya, dan mengampuni kita semua, karena Dia Maha Pemberi ampunan dan Maha Penyayang.