Senin 18 Dzulhijjah 1445 - 24 Juni 2024
Indonesian

Apa Maksud Percaya Diri Seorang Muslim Pada Dirinya. Apakah Hal Itu Bertentangan Dengan Kebutuhannya Kepada Tuhannya ?

115129

Tanggal Tayang : 26-05-2024

Penampilan-penampilan : 678

Pertanyaan

Bagaimana seorang Muslim yang tidak mempunyai percaya diri bisa menambah percaya  dirinya? Ia mencoba melakukan banyak hal, namun ia tidak dapat mengatasi rasa gugupnya saat berbicara dengan orang lain.

Teks Jawaban

Alhamdulillah.

Pertama.

Percaya diri termasuk hal yang bisa dipelajari. Seorang Muslim perlu mengenal cara untuk mendapatkannya agar bisa mendapatkannya. Akan tetapi, pertama, semestinya dia membedakan antara percaya diri dan tertipu. Percaya diri maksudnya adalah merasakan sifat-sifat baik yang dianugerahkan oleh Allah kepada Anda dan mengamalkannya pada hal-hal yang bermanfaat untuk Anda. Kalau Anda tidak menggunakannya dengan baik, maka Anda akan terperdaya dan ujub (takjub pada diri sendiri). Keduanya termasuk penyakit yang menghancurkan. Jika Anda mengingkari nikmat yang telah diberikan kepada Anda tersebut dan sifat-sifat baik yang Allah karuniakan kepada Anda, maka Anda akan terkena kemalasan, tidak semangat, merugikan diri Anda sendiri dan mengabaikan nikmat-nikmat Allah pada Anda. Allah Ta’ala berfirman,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا. وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

الشمس /9-10

Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu) dan sungguh rugi orang yang mengotorinya. (QS. As-Syams : 9-10).

Penting untuk diingat, percaya diri seorang Muslim pada dirinya bukan berarti tidak membutuhkan taufik dan bimbingan Tuhannya, dan juga tidak berarti ia tidak membutuhkan nasihat dan arahan saudara-saudaranya dan semua manusia. Taufik dan arahan inilah yang diminta oleh Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam doanya kepada Tuhannya agar tidak menyerahkan dirinya kepada dirinya sendiri walaupun hanya sekejap mata saja.

عَنْ أبي بَكرة قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : دَعَوَاتُ الْمَكْرُوبِ اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو فَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ وَأَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ رواه أبو داود ( 5090 ) وحسَّنه الألباني  في صحيح أبي داود ورواه النسائي ( 10405 ) من حديث أنس ، وحسَّنه الألباني في " صحيح النسائي "

Diriwayatkan dari Abu Bakrah, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, ‘Doa-doa ketika terkena bencana dan musibah, ‘Wahai Allah, hanya rahmat-Mu yang aku harapkan, maka janganlah Engkau menyerahkan aku kepada diriku sendiri meski hanya sekejap mata dan perbaikilah seluruh urusanku. Tiada tuhan yang berhak disembah selain Engkau.’” (HR. Abu Daud, no. 5090 dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih Abi Daud, an-Nasa’i, no. 10405 dari hadits Anas dan dihasankan oleh Al-Albani dalam Shahih An-Nasa’i. Doa ini dibaca ketika pagi dan sore hari).  

Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah pernah ditanya, “Apa hukum ungkapan si Fulan percaya pada dirinya atau si Fulan mempunyai kepercayaan pada dirinya? Apakah hal ini bertentangan dengan doa: maka janganlah Engkau menyerahkan aku kepada diriku sendiri meski hanya sekejap mata?

Beliau menjawab, “Hal ini tidak mengapa, karena maksud dari orang yang mengatakan Si Fulan percaya pada dirinya adalah untuk menguatkan. Maksudnya, dia menguatkan kondisinya dan menegaskannya. Tidak ragu lagi bahwa terkadang seseorang menyandarkan keyakinan kepada dirinya. Terkadang dugaan kuat. Terkadang keragu-raguan. Terkadang kelemahan. Kalau dia mengatakan, ‘Saya percaya akan hal ini,’ atau ‘Saya percaya pada diriku,’ atau ‘Seseorang percaya pada dirinya.’ Atau ‘Dia percaya pada apa yang dikatakan,’ maksudnya adalah dia meyakini hal ini, maka hal itu tidak mengapa dan tidak bertentangan dengan doa yang terkenal: maka janganlah Engkau menyerahkan aku kepada diriku sendiri meski hanya sekejap mata. Karena seorang manusia percaya pada dirinya karena bantuan Allah dan pada ilmu, kemampuan dan semisalnya yang telah Allah berikan kepadanya.” (Fatawa Islamiyah, 4/480).

Hal ini menegaskan betapa besarnya kebutuhan seorang hamba kepada Tuhannya. Seorang hamba itu jahil (tidak mengetahui apa-apa), sementara Tuhannya itu Maha Mengetahui. Seorang hamba itu fakir, sementara Tuhannya Maha Kaya. Seorang hamba itu lemah, sedangkan Tuhannya itu Maha Kuat. Seorang hamba itu tidak mampu, adapun Tuhannya Maha Mampu. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

فاطر/ 15

Wahai manusia, kamulah yang memerlukan Allah. Hanya Allah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (QS. Fathir : 15).

Jika demikian, berarti manusia harus berada di posisi pertengahan. Dia tidak bangga diri dan lalai terhadap Allah. Dia juga tidak boleh lemah, ragu-ragu, pelan dan jiwa yang merugi. Akan tetapi, dia harus kuat dalam beramal (bekerja), terus-terusan menyelesaikan masalah, sembari memohon pertolongan kepada Allah dan bertawakkal kepada Allah Azza wa Jalla. Posisi yang mulia inilah yang diisyaratkan oleh sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ . رواه مسلم (2664) من حديث أبي هريرة

Seorang Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada Mukmin yang lemah, tetapi dalam diri keduanya ada kebaikan. Capailah dengan sungguh-sungguh apa yang berguna bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu menjadi orang yang lemah. Apabila kamu tertimpa suatu kemalangan, maka janganlah kamu mengatakan, ‘Seandainya tadi saya berbuat begini dan begitu, niscaya tidak akan menjadi begini dan begitu.’ Tetapi katakanlah, ‘lni sudah takdir Allah dan apa yang dikehendaki-Nya pasti akan dilaksanakan-Nya. Karena sesungguhnya ungkapan kata 'law' (seandainya) akan membukakan jalan bagi godaan syetan.’” (HR. Muslim, no. 2664 dari hadits Abu Hurairah).

Ibnu Al-Qayyim Rahimahullah mengatakan, “Hadits di atas mengandung beberapa unsur iman yang paling penting. Salah satunya adalah bahwa Allah menyandang sifat pencinta, dan Dia benar-benar mencintai. Kedua, Allah menyukai hal-hal yang sesuai dengan asma’ dan sifat-sifat-Nya, di mana Dia Mahakuat dan mencintai orang mukmin yang  kuat, Dia Mahawitir (ganjil) dan mencintai witir. Dia Mahaindah dan mencintai keindahan, Dia Maha Mengetahui dan mencintai para ulama, Dia Mahabersih dan mencintai kebersihan, Dia mukmin dan mencintai orang-orang Mukmin, Dia itu juga muhsin dan mencintai orang-orang yang muhsin, Dia Mahasabar dan mencintai orang-orang yang sabar, dan Dia Mahabersyukur dan mencintai orang-orang yang bersyukur.

Bertolak dari hal itu, kecintaan-Nya kepada orang-orang yang beriman pun bertingkat-tingkat, di mana Dia lebih mencintai sebagian dari mereka atas yang lainnya.

Dan dari hal tersebut pula dapat dikatakan bahwa kebahagiaan seseorang itu tergantung pada usahanya untuk mengerjakan apa yang bermanfaat baginya di dunia dan akhirat. Sedangkan usaha adalah mencurahkan dan mengeluarkan segala kemampuan. Jika orang yang berusaha menemukan apa yang bermanfaat baginya, hal yang demikian itu merupakan perbuatan terpuji dan kesempurnaan dirinya terdapat pada kedua hal, yaitu hendaknya menjadi orang yang berusaha dan berusaha untuk meraih apa yang bermanfaat baginya. Dan jika ia mengerjakan suatu hal yang tidak memberikan manfaat baginya atau mengerjakan suatu hal yang bermanfaat baginya tetapi tanpa dibarengi usaha yang keras, maka ia telah kehilangan kesempurnaan sesuai dengan usaha yang ditinggalkan tersebut. Dengan demikian, semua kebaikan itu terletak pada usaha keras untuk memperoleh dan mempertahankan segala sesuatu yang memberikan manfaat.

Dan karena usaha dan kerja keras seseorang itu tergantung pada pertolongan, kehendak, dan keridhaan Allah, maka Dia memerintahkannya untuk memohon pertolongan kepada-Nya supaya ia dapat mencapai maqam (kedudukan) yang termuat dalam ayat, “Hanya Kepada-Mu kami menyembah dan kepada-Mu pula kami memohon pertolongan.

Salah satu bentuk usaha dan kerja keras yang dapat mendatangkan manfaat adalah ibadah kepada Allah. Dan ibadah itu tidak sempurna kecuali dengan pertolongan-Nya. Oleh karena itu, Dia memerintahkan hamba-Nya agar menyembah-Nya dan memohon pertolongan kepada-Nya.

Dalam hadits tersebut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, Dan janganlah kamu menjadi orang yang lemah,” karena sifat lemah itu bertentangan dengan usaha dan kerja keras untuk memperoleh apa yang bermanfaat baginya dan juga bertentangan dengan perintah-Nya untuk memohon pertolongan kepada-Nya.

Dengan demikian, orang yang berusaha keras untuk mendapatkan apa yang bermanfaat baginya bertentangan dengan orang yang lemah. Hal itu merupakan bimbingan yang disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam baginya pada sesuatu yang merupakan penyebab terbesar tercapainya takdir, yaitu berusaha keras disertai memohon pertolongan kepada Allah yang mana kendali segala sesuatu berada di tangan-Nya, yang sumber segala sesuatu dari-Nya dan tempat kembalinya pun kepada-Nya.  

Dan jika seseorang tidak berhasil mencapainya, maka ia mempunyai dua keadaan. Pertama, keadaan lemah, yang merupakan kunci bagi perbuatan setan, di mana kelemahan itu menyebabkan munculnya kata Law (seandainya), dan kata itu sama sekali tidak mengandung manfaat. Sebaliknya, ia merupakan kunci adanya celaan, keputusasaan, kemarahan, dan kesedihan. Semuanya itu merupakan bagian dari perbuatan setan. Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam melarang penggunaan kata Law tersebut. Dan beliau memerintahkan untuk menggunakan keadaan kedua, yaitu melihat dan memahami takdir, yang jika telah ditetapkan baginya suatu ketetapan, maka tidak akan ada yang dapat mengalahkannya. Dengan demikian itu, tidak ada yang lebih bermanfaat baginya selain memahami takdir dan kehendak Allah, yang mengharuskan adanya takdir tersebut. Oleh karena itu, beliau bersabda, ‘Jika engaku tertimpa musibah, maka janganlah engkau mengatakan, ‘Seandainya aku tidak mengerjakan ini dan itu.’ Tetapi katakanlah, ‘Allah telah mentakdirkan dan apa yang dikehendaki akan dikerjakannya.’

Dengan demikian itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberikan bimbingan untuk memperoleh apa yang bermanfaat bagi seseorang dalam dua keadaan, yaitu keadaan tercapainya apa yang diinginkan dan keadaan tidak tercapainya keinginan tersebut. Oleh sebab itulah, hadits ini sangat dibutuhkan oleh seorang hamba selamanya, bahkan hadits ini sangat penting. Dan hadits ini mencakup penetapan takdir, usaha, ikhtiyar, dan ibadah secara lahir maupun batin dalam dua keadaan, yaitu keadaan tercapainya yang diinginkan dan tidak tercapainya keinginan tersebut.” (Syifa’ul ‘Alil, 18-19).

Dari sini juga, seorang hamba membutuhkan Istikharah. Dengan Istikharah seorang hamba mengakui akan permasalahan sebenarnya yang terkait dengannya dan terkait dengan Tuhannya. Pada permulaan doa Istikharah seorang hamba mengatakan,

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ الْعَظِيمِ ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ وَأَنْتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku beristikharah dengan pengetahuan-Mu, aku memohon kekuatan dengan kekuatan-Mu, aku meminta kepada-Mu dengan kemuliaan-Mu. Sesungguhnya Engkau yang menakdirkan sementara aku tidak mampu melakukannya. Engkau yang Maha Tahu, sedangkan aku tidak tahu. Engkaulah yang mengetahui perkara yang gaib.”

Kami telah jelaskan dengan terperinci dalam dua jawaban dari 2 pertanyaan yaitu no. 11981 dan 2217 .

Kedua.

Menurut kami, di antara yang dapat menambah kepercayaan seorang Muslim pada dirinya adalah :

  1. Percaya kepada Tuhannya, tawakkal dengan baik kepada-Nya, serta meminta pertolongan dan penguatan dari-Nya. Maka seorang Muslim itu sangat membutuhkan Tuhannya. Sebagaimana yang telah kami sebutkan bahwa percaya diri adalah sesuatu yang dapat dipelajari. Seorang Muslim hanya membutuhkan penguatan dan taufik dari Tuhannya. Setiap kali kepercayaan kepada Tuhannya itu  kuat, maka kepercayaan kepada dirinya akan semakin tinggi tingkatananya.

Ketika Musa dan kaumnya lari dari Fir’aun dan tentaranya, kedua kelompok saling melihat, kita melihat betapa besarnya keagungan kepercayaan Musa kepada Tuhannya. Allah Ta’ala berfirman,

فَلَمَّا تَرَاءَى الْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَابُ مُوسَى إِنَّا لَمُدْرَكُونَ . قَالَ كَلَّا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهْدِينِ

الشعراء/ 61 ، 62

“Ketika kedua golongan itu saling melihat, para pengikut Musa berkata, ‘Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.’ Dia (Musa) berkata, ‘Tidak! Sesungguhnya Tuhanku bersamaku. Dia akan menunjukiku.’” (QS. As-Syu’ara’ : 61-62).

  1. Mencari sisi kekuatan pada diri, kemudian menambahinya dengan keahlian lalu mengembangkannya. Cari pula sisi kelemahan dan kekurangannya, kemudian menutupinya.

Agar percaya diri menguat, maka harus melihat sifat dan keahlian yang telah Allah berikan kepada Anda dengan pandangan penuh kepercayaan. Sehingga hal itu menjadi support bagi anda untuk menguatkan kepercayaan diri Anda. Sementara sisi lemahnya, Anda harus memperbaiki kondisinya dan menjadikan hal itu setingkat sisi kekuatan dan keahliannya.

  1. Penting bagi seorang Muslim yang mencari sarana-sarana untuk menguatkan kepercayaan diri, agar dia tidak mengulang-ulang kata yang menjatuhkan seperti: dia tidak mempunyai kepercayaan diri atau dia orang yang tidak tepat pada suatu pekerjaan.
  2. Seorang Muslim harus membuat tujuan tertentu dalam kehidupannya, mengevaluasi hasilnya satu persatu, karena orang yang percaya diri yang melihat tujuannya akan terealisasi, maka ia akan membuat perencanaan dengan baik, kemudian Tuhan akan memberikan hasil terbaik.
  3. Seorang Muslim hendaknya berusaha keras untuk menjalin pertemanan yang baik, karena dapat menguatkan fenomena kesuksesan dan membuatnya bahagia serta memberinya motivasi untuk menaruh perhatian lebih dalam bekerja. Teman yang baik tidak akan menutup mata terhadap kelemahan temannya, akan tetapi menunjukkan jalan yang terbaik. Sehingga teman yang baik termasuk salah satu faktor kesuksesan dalam mewujudkan percaya diri seorang Muslim.
  4. Tidak menyibukkan diri dengan pengalaman keras dan kegagalan masa lalu, karena hal itu dapat melemahkan aktivitas seorang Muslim dan menghilangkan sisi keberhasilan pada dirinya. Tentu hal itu tidak diinginkan oleh seorang Muslim pada dirinya.

Ketiga.

Mengendalikan dan meluruskan tindakan dan perbuatan merupakan perkara yang dapat dilakukan oleh seorang Muslim, di antaranya adalah karakter marah. Hendaknya seorang Muslim percaya diri bahwa dengan taufik Allah dia mampu melepaskan diri dari kemarahan yang negatif. Dia harus berusaha untuk memperbaiki diri, memperindah dan mendidiknya agar komitmen dengan syariat Allah Ta’ala. Ini permasalahan yang sangat mudah bagi orang yang ingin merealisasikan dalam dunia realita, dengan syarat ia  mempunyai semangat tinggi untuk menyempurnakan apa yang ingin diperbaiki dan disucikan.

Dalam dua jawaban dari dua pertanyaan, yaitu no. 45657 dan no. 658 kami telah sebutkan metode sesuai syariat untuk mengatasi kemarahan. Silahkan dilihat, keduanya sangatlah penting.

Bagi orang yang ingin lepas dari kemarahan, tidak ada cara lain kecuali bersegera untuk beramal. Itulah yang benar-benar kurang pada diri kita. Kalau sekedar bicara, sudah banyak. Sementara yang melakukannya, masih sedikit. Maka seorang Muslim yang ingin membersihkan dan memperbaiki dirinya, hendaknya bersegera mempraktikkan dan mewujudkan apa yang diperintahkan oleh Tuhannya dan berhenti dari apa yang dilarang-Nya. Dengan begitu, dia termasuk golongan orang-orang yang beruntung, Insya Allah.

ولا تك ممَّن يُغلقُ الباب دونه       عليه بمغلاق من العجز مقفلِ

وَما المَرءُ إِلّا حَيثُ يَجعَلُ نَفسَهُ       فَفي صالِح الأَعمالِ نَفسكَ فَاِجعَلِ

Janganlah jadi orang yang di hadapannya pintu terkunci.

Yang tertutup dengan gembok kelemahan.

Tiadalah seseorang, melainkan sesuai anggapan dirinya sendiri.

Maka jadikanlah dirimu termasuk pelaku kebaikan. 

Dalam jawaban dari pertanyaan no. 22090 , kami telah menyebutkan bagaimana seorang Muslim mendidik dirinya. Silahkan melihatnya.

Wallahu A’lam.

Refrensi: Soal Jawab Tentang Islam