Senin 18 Dzulhijjah 1445 - 24 Juni 2024
Indonesian

Kemiskinan, dampak negatif dan cara menyelesaikannya dalam Islam

95340

Tanggal Tayang : 24-05-2024

Penampilan-penampilan : 775

Pertanyaan

Bagaimana Islam memerangi kemiskinan ?

Teks Jawaban

Alhamdulillah.

Pertama:

Kemiskinan termasuk salah satu malapetaka yang sudah ditetapkan oleh Allah untuk terjadi, baik dialami oleh individu, keluarga, ataupun kelompok masyarakat tertentu, kemiskinan memiliki dampak negatif pada keyakinan (iman) dan perilaku. Para misionaris Kristen banyak mengeksploitasi kondisi kemiskinan dan kekurangan sumber daya masyarakat untuk menyebarkan agama Kristen di kalangan masyarakat tersebut, kemisikinan juga menjadi faktor dominan dalam merebaknya perilaku masyarakat yang tidak bermoral; dan untuk menghindari kemiskinan dan memenuhi kebutuhan hidup banyak terjadi tindak pidana pencurian, pembunuhan, zina, dan penjualan barang-barang terlarang.

Tidak bisa dipungkiri bahwa hal-hal tersebut berdampak buruk pada individu dan masyarakat. Allah menyebutkan tentang keadaan orang-orang musyrik dimana sebagian dari mereka membunuh anak-nak mereka, baik karena kemiskinan yang mereka alami atau karena takut akan ditimpa kemiskinan. Allah berfirman mengenai kelompok yang pertama:

وَلا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ مِنْ إِمْلاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ

الأنعام /151

(dan janganlah membunuh anak-anakmu karena kemiskinan. (Tuhanmu berfirman,) ‘Kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka.) Al-An’am/151

Dan Allah berfiman mengenai kelompok yang kedua:

وَلا تَقْتُلُوا أَوْلادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئاً كَبِيراً

الإسراء/ 31

(Janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan (juga) kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka itu adalah suatu dosa yang besar.) Al-Isra’ /31.

Dalam Sahihaini diriwayatkan tentang kisah seorang perempuan dari Bani Israel ketika ia sedang membutuhkan uang dan dalam kondisi yang sangat tertekan, dan dia tidak mendapati selain sepupu dari pihak ayah yang menggodanya dengan imbalan uang, kemudian Allah menyelamatkannya setelah dia mengingatkannya kepada Allah dan menyuruhnya untuk takut kepada-Nya.

Dan bagaimanpun juga; sudah menjadi pengetahuan umum bahwa kemiskinan adalah penyebab meluasnya banyak tindak kejahatan dan kerusakan, dan banyak bangsa yang menderita karenanya, dan upaya untuk mencari solusi atas masalah kemiskinan tersebut hasilnya sia-sia, dalam mengatasi kemisikinan tidak ada solusi lain kecuali dengan Islam yang datang dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku bagi seluruh umat manusia hingg hari kiamat tiba.

Kedua:

Menurut syariat kita ada beberapa sarana untuk  mengatasi dan memerangi kemiskinan, diantaranya:

1.      Mengajarkan manusia tentang keyakinan yang benar bahwa rizki datangnya dari Allah, Dialah Yang Maha Pemberi rizki (Al-Razzaq), dan bahwa dibalik semua ketentuan (takdir) Allah tentang musibah ada hikmah yang besar, dan bagi setiap muslim yang fakir untuk bersabar atas musibah yang menimpanya, dan berusaha keras untuk menghilangkan kemiskinan yang menimpa dirinya dan keluarganya.

Allah ta’ala berfirman: 

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ

الذاريات/58

(Sesungguhnya Allahlah Maha Pemberi Rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kukuh.), Ad-Dzariyat /58.

Allah ta’ala berfirman:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

هود/6

(Tidak satu pun hewan yang bergerak di atas bumi melainkan dijamin rezekinya oleh Allah. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauhulmahfuz). Hud /6.

Allah ta’ala berfirman:

أَمَّنْ هَذَا الَّذِي يَرْزُقُكُمْ إِنْ أَمْسَكَ رِزْقَهُ بَلْ لَجُّوا فِي عُتُوٍّ وَنُفُورٍ

الملك/21

(Atau, siapakah yang dapat memberimu rezeki jika Dia menahan rezeki-Nya? Sebaliknya, mereka terus-menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri (dari kebenaran). Al-Mulk /21.

Allah ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلاً

الإسراء/70

(Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam dan Kami angkut mereka di darat dan di laut. Kami anugerahkan pula kepada mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna) Al-Isra’ /70.

Dengan adanya keyakinan seperti ini maka hendaknya setiap orang bisa bersabar atas kemiskinan yang menimpanya, dan kembali menghadap kepada Allah subhanahu wa ta’ala semata dalam mencari rizki, dan ikhlas menerima apa yang sudah Allah tetapkan, dan terus berusaha dalam mencari rizki.

Dari Suhaib Al-Rumi radhiyallahu 'anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ رواه مسلم - 2999

("perkara orang mu`min mengagumkan, sesungguhnya semua perihalnya baik dan itu tidak dimiliki seorang pun selain orang mu`min, bila tertimpa kesenangan, ia bersyukur dan syukur itu baik baginya dan bila tertimpa musibah, ia bersabar dan sabar itu baik baginya.") diriwayatkan oleh Muslim (2999).

Kita bisa melihat pengaruh keyakinan akidah kaum muslimin dengan melihat fakta yang terjadi pada non-muslim, sebagai contoh; di Jepang pada tahun 2003 terjadi tiga puluh tiga ribu kasus bunuh diri, dengan alasan utamanya adalah: pengangguran, dalam laporan di website “BBC” 1/9/2004 mereka mengatakan: “Statistik resmi menunjukkan bahwa tiga puluh tiga ribu orang bunuh diri tahun lalu di Jepang. Para pejabat Jepang mengatakan bahwa salah satu faktor meningkatnya angka bunuh diri ini adalah adanya resesi ekonomi yang sedang dialami Jepang, yang dianggap sebagai yang terburuk dalam lima puluh tahun terakhir. Hal ini menyebabkan tingginya angka pengangguran pada tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan selanjutnya memicu peningkatan kasus depresi, terutama di kalangan pria paruh baya.”

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّ رَبَّكَ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ إِنَّهُ كَانَ بِعِبَادِهِ خَبِيراً بَصِيراً

الإسراء/30 

(Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkan (-nya bagi siapa yang Dia kehendaki). Sesungguhnya Dia Maha Teliti lagi Maha Melihat hamba-hamba-Nya) Al-Isra’ /30.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

firman Allah (Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki bagi siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkan (-nya bagi siapa yang Dia kehendaki)  menjelaskan bahwa Allah ta’ala adalah yang Maha Pemberi Rizki, Yang Maha Menyempitkan, Yang Maha Meluaskan, Yang Mengatur makhluk ciptaan sesuai kehendak-Nya, yang memperkaya siapa yang Dia kehendaki, dan memiskinkan siapa yang Dia kehendaki, dengan segala hikmah yang disertakan didalamnya; dan karena itulah Dia berfirman: (Sesungguhnya Dia Maha Teliti lagi Maha Melihat hamba-hamba-Nya) artinya: Allah Maha teliti dan Maha melihat siapa diantara hambanya yang berhak dijadikan kaya dan siapa yang berhak dijadikan miskin. Bagi sebagian orang, Kekayaan bisa jadi adalah istidraj, dan kemiskinan adalah hukuman, untuk itu kita berlindung kepada Allah dari satu hal dan lainya. Tafsir Ibnu Katsir “5/71”.

2.      Berlindung kepada Allah dari kemiskinan

Dalam beberapa riwayat Hadis disebutkan mengenai apa yang biasa dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam dan diajarkan kepada umatnya, yaitu meminta perlindungan kepada Allah ta’ala dari kemiskinan karena pengaruhnya pada diri sendiri, keluarga dan masyarakat.

dari [Muslim bin Abu Bakrah] dia berkata; [Bapakku] ketika selesai shalat mengucapkan (doa);

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ " فَكُنْتُ أَقُولُهُنَّ ، فَقَالَ أَبِي : أَيْ بُنَيَّ عَمَّنْ أَخَذْتَ هَذَا ؟ قُلْتُ : عَنْكَ ، قَالَ : إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُهُنَّ فِي دُبُرِ الصَّلَاةِ رواه النسائي ( 1347 ) ، وصححه الألباني في " صحيح النسائي

'Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kekufuran, kefakiran, dan adzab kubur'. Aku juga mengucapkannya, lalu Bapakku berkata; 'Wahai anakku, dari siapa kamu mengambil ini? ' Aku menjawab; 'Darimu'. bapakku kemudian berkata; 'Rasulullah Shallallahu 'Alahi Wa Sallam senantiasa mengucapkannya setiap selesai shalat." Diriwayatkan oleh An-Nasai (1347), dan digolongkan Sahih oleh Al-Albani dalam “Sahih An-Nasai

Dan dari [Aisyah] bahwa Nabi Shallallahu 'alahi wasallam selalu mengucapkan:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْكَسَلِ وَالْهَرَمِ وَالْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ النَّارِ وَعَذَابِ النَّارِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْغِنَى وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْفَقْرِ رواه البخاري ( 6007 ) ومسلم ( 589

(Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa malas, kepikunan, kesalahan dan terlilit hutang, dan dari fitnah kubur serta siksa kubur, dan dari fitnah neraka dan siksa neraka dan dari buruknya fitnah kekayaan dan aku berlindung kepada-Mu dari buruknya fitnah kefakiran) diriwayatkan oleh Al-Bukhari (6007) dan Muslim (589).

3.      Perintah untuk bekerja, mencari nafkan, dan merantau di muka bumi untuk mencari rizki.

Allah ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولاً فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ

الملك /15

(Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu dalam keadaan mudah dimanfaatkan. Maka, jelajahilah segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Hanya kepada-Nya kamu (kembali setelah) dibangkitkan) Al-Mulk /15.

Allah ta’ala berfirman:

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيراً لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

الجمعة /10

(Apabila salat (Jumat) telah dilaksanakan, bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung) Al-Jumuah /10.

Dari al-Miqdad rahiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ ، وَإِنَّ نَبِيَّ اللَّهِ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلَام كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ رواه البخاري ( 1966

("Tidaklah seseorang itu makan sesuatu makanan, sekalipun sedikit, yang lebih baik daripada apa yang dimakannya dari hasil usaha tangannya sendiri dan sesungguhnya Nabiyullah Dawud 'alaihis-salam itu juga makan dari hasil usaha tangannya sendiri.") Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1966).

Dari az-Zubair bin al-Awwam radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alahi wasallam bersabda:

لَأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ حَبْلَهُ فَيَأْتِيَ بِحُزْمَةِ الْحَطَبِ عَلَى ظَهْرِهِ فَيَبِيعَهَا فَيَكُفَّ اللَّهُ بِهَا وَجْهَهُ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ أَعْطَوْهُ أَوْ مَنَعُوهُ رواه البخاري ( 1402

"Sesungguhnya jikalau seseorang dari engkau semua itu mengambil tali-talinya -untuk mengikat- lalu ia datang di gunung, kemudian ia datang kembali -di negerinya- dengan membawa sebongkokan kayu bakar di atas punggungnya, lalu menjualnya, kemudian dengan cara sedemikian itu Allah menahan wajahnya -menjaga harga diri dari meminta-minta-, maka hal yang semacam itu adalah lebih baik baginya daripada meminta-minta sesuatu pada orang-orang, baik mereka itu suka memberinya atau menolaknya." Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1402).

4.      Kewajiban zakat atas harta orang-orang kaya

Allah ta’ala telah menentukan adanya hak orang-orang miskin didalam zakat, mereka diberikan hak atas zakat, dan tetap mendapatkannya sampai mereka tidak membutuhkanya, dan sampai terbebas dari kemiskinan.

Allah ta’ala berfirman:

إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ 

التوبة /60

(Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, para amil zakat, orang-orang yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) para hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk orang-orang yang sedang dalam perjalanan (yang memerlukan pertolongan), sebagai kewajiban dari Allah. Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.) At-Taubah /60.

Allah ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَعْلُومٌ . لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ

المعارج /24-25.

(yang di dalam hartanya ada bagian tertentu. untuk orang (miskin) yang meminta-minta dan orang (miskin) yang menahan diri dari meminta-minta) Al-Ma’arif /24-25.

5.      Anjuran untuk bersedekah, berwakaf, dan memberikan santunan kepada anak-anak yatim dan para janda.

Allah ta’ala berfirman:

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لِأَنْفُسِكُمْ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

التغابن /16.

(Bertakwalah kamu kepada Allah sekuat kemampuanmu! Dengarkanlah, taatlah, dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu! Siapa yang dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung.) At-Taghabun /16.

Allah ta’ala berfirman:

وَمَا أَنْفَقْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ يُخْلِفُهُ وَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ

سبأ /39.

(Suatu apa pun yang kamu infakkan pasti Dia akan menggantinya. Dialah sebaik-baik pemberi rezeki.) Saba’ /39.

Allah ta’ala berfirman:

وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا

المزمل /20.

(Kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)-nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya) Al-Muzammil /20.

Dari [Adi bin Abu Hatim] ia berkata; Saya mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَنْ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَتِرَ مِنْ النَّارِ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَلْيَفْعَلْ رواه البخاري ( 1347 ) ومسلم ( 1016 ) – واللفظ له

"Siapa di antara kalian yang mampu melindungi dirinya dari api neraka meskipun dengan setengah biji kurma, maka hendaklah ia melakukannya." Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1347) dan Muslim (1016).

Dari [Sahl bin Sa'd] berkata:  Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

وَأَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا - وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا شَيْئًا  رواه البخاري ( 4998 ) .ومسلم ( 2983 ) من حديث أبي هريرة بلفظ قريب

"Aku dan orang yang menanggung anak yatim berada di surga seperti ini." Beliau mengisyaratkan dengan kedua jarinya yaitu telunjuk dan jari tengah." Diriwayatakan oleh Al-Bukhari (4998) dan Muslim (2983) dari Hadis Abi Hurairah dengan lafadz qarib.

Dari Abi Hurairah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

السَّاعِي عَلَى الْأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ الْقَائِمِ اللَّيْلَ الصَّائِمِ النَّهَارَ  رواه البخاري ( 5038 ) ومسلم ( 2982

“Orang yang memberi kecukupan kepada para janda dan orang-orang miskin, maka ia seperti halnya seorang mujahid di jalan Allah atau seorang yang berdiri menunaikan qiyamullail dan berpuasa di siang harinya.” Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (5038) dan Muslim (2982).

6.      Diharamkan Riba, Judi, dan perilaku curang dalam Jual beli

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ . فَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِنْ تُبْتُمْ فَلَكُمْ رُؤُوسُ أَمْوَالِكُمْ لا تَظْلِمُونَ وَلا تُظْلَمُونَ

البقرة /278-279.

(Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang mukmin. Jika kamu tidak melaksanakannya, ketahuilah akan terjadi perang (dahsyat) dari Allah dan Rasul-Nya. Akan tetapi, jika kamu bertobat, kamu berhak atas pokok hartamu. Kamu tidak berbuat zalim (merugikan) dan tidak dizalimi (dirugikan)) Al-Baqarah /278-279.

Allah ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

المائدة/90.

(Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji (dan) termasuk perbuatan setan. Maka, jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.) Al-Maidah /90.

Dari [Abu Hurairah] bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melewati setumpuk makanan, lalu beliau memasukkan tangan ke dalamnya dan jari-jarinya mengenai sesuatu yang basah, beliau pun mengatakan:

مَا هَذَا يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ ؟ قَالَ : أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، قَالَ : أَفَلَا جَعَلْتَهُ فَوْقَ الطَّعَامِ كَيْ يَرَاهُ النَّاسُ ؟ مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنِّي رواه مسلم ( 102

"Wahai pemilik makanan, apa ini?" ia menjawab; Terkena hujan, wahai Rasulullah. Beliau mengatakan: "Mengapa engkau tidak menempatkannya di atas makanan ini hingga orang-orang melihatnya?" kemudian beliau bersabda: "Barangsiapa berbuat curang, ia tidak termasuk golongan kami." Diriwayatkan oleh Muslim (102).

Dan jika hal-hal tersebut berlaku dan tersebar luas di kalangan masyarakat, maka akan terjadi pengambilan harta dengan cara yang bathil, bahkan bisa menyebabkan orang-orang akan kehilangan seluruh harta bendanya karena hal-hal tersebut, oleh karena itulah nash-nash diatas dengan terang dan jelas melarangnya.

7.      Anjuran untuk membantu orang yang membutuhkan bantuan, dan mendukung orang yang lemah.

Dari [An Nu'man bin Bisyir] dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى رواه البخاري ( 5665 ) ومسلم ( 2586

"Orang-Orang mukmin dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya) '" diriwayatkan oleh Al-Bukhari (5665) dan Muslim (2586).

Dari Ibnu Abas rahiyallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

ليس المسلم الذي يشبع ويجوع جاره رواه البيهقي في الشعب (9251) وغيره ، وحسنه الألباني .

“bukanlah seorang Muslim, yang ia merasa kenyang dan tetangganya dalam keadaan lapar”. Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dalam as-sya’ab (9251) dan lainya, dan di golongkan Hasan oleh Al-Albani.

Dalam Muwatha Imam Malik (1742) dari [Yahya bin Sa'id] bahwa [Umar bin Khattab] bertemu Jabir bin Abdullah yang sedang membawa daging. Lalu Umar bertanya; "Apa ini?" Jabir menjawab,:

: يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ قَرِمْنَا إِلَى اللَّحْمِ فَاشْتَرَيْتُ بِدِرْهَمٍ لَحْمًا !!
فَقَالَ عُمَرُ : أَمَا يُرِيدُ أَحَدُكُمْ أَنْ يَطْوِيَ بَطْنَهُ عَنْ جَارِهِ أَوْ ابْنِ عَمِّهِ ؟!! أَيْنَ تَذْهَبُ عَنْكُمْ هَذِهِ الْآيَةُ (َذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمْ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهَا).

"Wahai Amirul Mukminin, kami sedang berselera untuk makan daging, lalu aku membelinya dengan satu dirham." Umar bertanya; 'Apakah salah seorang dari kalian mengisi perutnya dengan mengabaikan tetangga atau anak pamannya? Lalu akan kalian apakan ayat Allah ini: '(Kalian jauhkan kebaikan-kebaikan kalian pada kehidupan dunia sedang kalian bersenang-senang dengannya) ' (Qs. Al Ahqaaf: 20) .

Ini adalah gambaran singkat tentang hakikat kemiskinan, dimana didalamnya terdapat petunjuk mengenai beberapa dampak buruk dari kemiskinan, dan sebagai seorang muslim tentu mengetahui bahwa kemiskinan, kekayaan, pemberian dan ditahannya rizki adalah ketentuan Allah ta’ala, maka (seorang Muslim) hendaknya bersabar ketika ditimpa kesulitan, dan bersyukur kepada Allah atas kebaikan yang diberikan kepadanya, namun demikian wajib bagi setiap muslim untuk bekerja, mencari nafkah agar terlepas dari kemiskinan yang menimpa diri dan keluarganya, dan bagi mereka yang tidak mampu karena kondisi fisik atau negaranya: maka sesungguhnya Islam akan membantu mereka dalam menghadapi kemiskinan melalui zakat dan sedekah yang menjadi hak harta bagi mereka.

Wallahu a’lam

Refrensi: Soal Jawab Tentang Islam