Kamis 14 Dzulhijjah 1445 - 20 Juni 2024
Indonesian

Apa Itu Hakekat Syirik Dan Ada Berapa Pembagiannya ?

Pertanyaan

Saya banyak membaca: “Ini adalah perbuatan syirik besar, dan ini syirik kecil”, apakah anda berkenan menjelaskan kepada saya perbedaan antara keduanya ?

Teks Jawaban

Alhamdulillah.

Termasuk kewajiban yang terpenting, hendaknya seorang hamba mengetahui makna syirik, bahaya, dan pembagiannya sehingga tauhidnya menjadi sempurna, keislamannya selamat, dan keimanannya benar. Maka kami katakan dengan taufik dan kebenaran dari Allah:

Ketahuilah –semoga Allah memberimu taufik- bahwa syirik secara bahasa adalah mengangkat sekutu, yaitu dengan menjadikan salah satu menjadi sekutu bagi yang lain. Dikatakan: menyekutukan keduanya apabila dia menjadikan keduanya menjadi sekutu, atau mengikutsertakan orang lain para urusannya, jika menjadikan urusan itu untuk dua orang.

Adapun menurut syari’at: Mengakui mitra atau sekutu bagi Allah ‘azza wa jalla di dalam rububiyah, atau dalam ibadah atau di dalam nama dan sifat-sifat.

An Nidd adalah sekutu, serupa. Dan karenanya Allah ta’ala telah melarang untuk mengakui sekutu dan mencela orang-orang yang menjadikannya sekutu selain Allah pada banyak ayat di dalam Al Qur’an, Allah ta’ala berfirman:

 فَلا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَاداً وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

سورة البقرة: 22

“Oleh karena itu, janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui”. (QS. Al Baqarah: 22)

Dan Allah berfirman:

وَجَعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَاداً لِيُضِلُّوا عَنْ سَبِيلِهِ قُلْ تَمَتَّعُوا فَإِنَّ مَصِيرَكُمْ إِلَى النَّارِ

سورة إبراهيم: 30

“Mereka (orang-orang kafir) itu telah membuat tandingan-tandingan bagi Allah untuk menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah (Nabi Muhammad), “Bersenang-senanglah! Sesungguhnya tempat kembalimu adalah neraka.” (QS. Ibrohim: 30)

Dan di dalam hadits bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

من مات وهو يدعو من دون الله ندا دخل النار (رواه البخاري، رقم 4497 ومسلم، رقم 92)

“Barang siapa yang mati dalam kondisi ia memohon kepada sekutu selain Allah, maka ia masuk neraka”. (HR. Bukhori: 4497 dan Muslim: 92)

Macam-macam Syirik:

Nash-nash Al Qur’an dan sunnah telah menunjukkan bahwa syirik dan persekutuan terkadang menjadikan seseorang keluar dari agama, dan terkadang tidak. Oleh karenanya para ulama memberikan istilah membagi menjadi dua: syirik besar dan syirik kecil

Berikut ini definisi singkat dari masing-masing keduanya:

Pertama: Syirik besar

Memalingkan kepada selain Allah apa yang murni menjadi hak Allah, dari rububiyah, uluhiyah dan asma dan sifat-Nya.

Syirik ini terkadang menjadi nampak jelas, seperti para pemuja berhala dan patung, pemuja kuburan, orang-orang mati dan mereka yang ghaib.

Dan terkadang menjadi khofiy (samar), seperti syiriknya mereka yang bertawakkal kepada selain Allah dari banyak tuhan yang berbeda-beda, atau syirik dan kufurnya orang-orang munafik; karena mereka ini meskipun syirik mereka ini besar, mengeluarkan dari agama, dan kekal di neraka, hanya saja termasuk syirk khofiy (samar/tersembunyi), karena mereka menampakkan keislaman dan memendam kekufuran dan kesyirikan, maka mereka ini syirik batinnya, tidak pada zahirnya.

Sebagaimana kesyirikan ini terkadang dalam hal keyakinan:

Seperti keyakinan bahwa ada yang menciptakan, menghidupkan, mematikan, menguasai atau mengelola jagad raya ini selain Allah ta’ala.

Atau meyakini bahwa ada yang ditaati dengan taat mutlak bersama Allah, lalu mereka mentaatinya dalam menghalalkan sesuai kehendaknya, dan mengharamkan sesuai kehendaknya, meskipun hal itu menyimpang dari agama para rasul.

Atau kesyirikan kepada Allah dalam mencintai dan mengagungkan, dengan mencintai makhluk seperti cintanya kepada Allah, maka hal ini syirik yang tidak diampuni oleh Allah, inilah syirik yang Allah berfirman:

ومن الناس من يتخذ من دون الله أندادا يحبونهم كحب الله

سورة البقرة: 165

“Di antara manusia ada yang menjadikan (sesuatu) selain Allah sebagai tandingan-tandingan (bagi-Nya) yang mereka cintai seperti mencintai Allah.”. (QS. Al Baqarah: 165)

Atau meyakini bahwa ada yang mengetahui perkara gaib Allah, ini yang banyak bagi sebagian firqoh yang menyimpang, seperti rafidhah, ekstrimis shufi, bathiniyah secara umum. Rafidhah meyakini bahwa para imamnya mengetahui hal ghaib, demikian juga aliran bathiniyah, shufiyah pada wali-wali mereka, keyakinannya seperti itu. Dan seperti keyakinan bahwa ada yang menyayangi dengan kasih sayang yang sama dengan kasih sayang Allah ‘azza wa jalla, menyayangi serupa dengan –Nya, dan dengan mengampuni dosa, memaafkan hamba-hambanya dan mengampuni kesalahannya.

Terkadang terjadi pada ucapan: Seperti orang yang berdoa, meminta bantuan, meminta tolong, berlindung kepada selain Allah, pada hal-hal yang tidak mampu kecuali oleh Allah ‘Azza wa Jalla, baik selain Allah ini sebagai Nabi, wali, atau raja, jin, atau makhluk lainnya. Hal ini termasuk syirik besar yang mengeluarkan pelakunya dari agama.

Dan seperti orang yang menghina agama, dan menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, atau menetapkan pencipta, pemberi rizeki atau pengatur bersama Allah, semua ini termasuk syirik besar dan dosa besar yang tidak diampuni.

Terkadang terjadi pada perbuatan: Seperti orang yang menyembelih, shalat, bersujud kepada selain Allah, atau membuat aturan yang menyerupai hukum Allah dan menerapkannya kepada manusia, dan mewajibkan mereka untuk berhukum kepadanya, atau mendukung orang-orang kafir dan membantu mereka untuk memerangi orang-orang yang beriman. Serta perbuatan lainnya  yang menafikan dasar keimanan dan pelakunya keluar dari agama Islam. Kita mohon ampunan dan kesehatan dari Allah.

Kedua: syirik kecil.

Yaitu; semua sarana menuju syirik besar, atau terdapat nash-nash bahwa hal itu adalah syirik, dan belum sampai pada level syirik besar.

Hal ini kebanyakan terjadi pada dua sisi:

Pertama:  Ada ketergantung pada sebagian sebab yang tidak Allah izinkan. Seperti ketergantungan pada jimat atau yang lainnya, bahwa hal itu menjadi sebab penjagaan atau menolak penyakit ‘ain sementara Allah tidak menjadikannya sebab untuk itu, baik secara syari’at juga tidak secara takdir.

Kedua: Mengagungkan sebagian hal yang besar namun tidak sampai kepada derajat rububiyah, seperti bersumpah kepada selain Allah, dan seperti ucapan: Kalau bukan karena Allah dan fulan, dan lain sebagainya.

Para ulama telah meletakkan rambu-rambu dan kaidah yang membedakan antara syirik besar dan syirik kecil di hadapan nash-nash syari’at, di antaranya adalah:

  1. Nash dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dengan jelas bahwa perbuatan ini merupakan syirik kecil, seperti di dalam Musnad : 27742 dari Mahmud bin Lubaid berkata: “Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ الشِّرْكُ الأَصْغَرُ . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ : وَمَا الشِّرْكُ الأَصْغَرُ؟ قَالَ :الرِّيَاء . إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَقُولُ يَوْمَ تُجَازَى الْعِبَادُ بِأَعْمَالِهِمْ اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ بِأَعْمَالِكُمْ فِي الدُّنْيَا فَانْظُرُوا هَلْ تَجِدُونَ عِنْدَهُمْ جَزَاءً (وصححه الألباني في السلسلة الصحيحة، رقم 951 )

“Sungguh yang paling aku takutkan dari kalian adalah syirik kecil” Para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, apa itu syirik kecil?” Beliau bersabda: ‘Riya, sungguh Allah tabaraka wa ta’ala berfirman pada hari di mana seorang hamba diberi balasan dari amal mereka, pergilah kalian kepada orang-orang yang dahulukalian perlihatkan amal kaliankepada mereka di dunia, lihatlah apakah kalian mendapatkan balasan dari mereka”. (Telah dinyatakan shahih oleh Albani di dalam Silsilah Shahihah: 951)

  1. Terdapat ucapan syirik pada nash-nash Al Qur’an dan sunnah dalam bentuk nakirah (umum) tanpa alif dan lam, hal ini umumnya maksudnya adalah syirik kecil, dan banyak contoh dalam hal ini seperti sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-:

إن الرقى والتمائم والتِّوَلَة شرك  أخرجه أبو داود ( 3883 ) وصححه الألباني في السلسلة الصحيحة ( 331 )

“Sungguh ruqyah (jampi-jampi), tamaim (jimat) dan tiwalah (guna-guna) adalah syirik”. (HR. Abu Daud: 3883 dan telah ditashih oleh Albani di dalam Silsilah Shahihah: 331)

Maksud dari syirik di sini adalah syirik kecil bukan syirik besar.

At Tamaim/Jimat adalah sesuatu yang digantungkan kepada anak-anak, seperti ikatan tali gelang atau yang lainnya, mereka mengklaim bahwa hal itu akan menjaganya dari penyakit ‘ain.

At tiwalah/buhul/ sihir adalah sesuatu yang dibuat, mereka mengklaim bawah hal itu menjadikan seorang wanita mencintai suaminya, atau seorang laki-laki kepada istrinya.

  1. Pemahaman para sahabat akan nash-nash syari’at bahwa maksudnya pada titik ini adalah syirik kecil bukan syirik besar, tidak diragukan lagi bahwa pemahaman para sahabat ini diakui, karena mereka manusia paling mengetahui agama Allah ‘Azza wa Jalla, dan yang paling tahu akan maksud dari pembuat syari’at.

Di antara contohnya adalah riwayat Abu Daud: 3910 dari Ibnu Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu- dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bahwa beliau bersabda:

الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ثَلاثًا ، وَمَا مِنَّا إِلا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّل

“At Thiyarah (merasa akan bernasib sial karena melihat sesuatu) adalah syirik (beliau ulang perkataannya sebanyak tiga kali). Tidak ada di antara kita kecuali….  akan tetapi Allah melenyapkannya dengan tawakkal”.

Kalimat “Wa Ma Minna” (tidak ada di antara kita kecuali….. ) adalah ucapan Ibnu Mas’ud sebagaimana syang dijelaskan oleh para ulama ahli hadits, maka hal ini menunjukkan bahwa Ibnu Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu- memahami bahwa hal ini adalah syirik kecil, karena tidak mungkin bermaksud bahwa di antara kita kecuali terjangkit pada syirik besar, sebagaimana syirik besar tidak bisa dihilangkan oleh Allah dengan tawakkal tapi dengan bertaubat.

  1. Bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- memberikan penafsiran kata syirik atau kufur yang menunjukkan bahwa maksudnya adalah kecil bukan syirik besar, sebagaimana yang telah diriwayatkan oleh Bukhori: 1038 dan Muslim: 71 dari Zaid bin Kholid Al Juhani berkata:

صَلَّى لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلاةَ الصُّبْحِ بِالْحُدَيْبِيَةِ عَلَى إِثْرِ سَمَاءٍ كَانَتْ مِنْ اللَّيْلَةِ فَلَمَّا انْصَرَفَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ فَقَالَ : "هَلْ تَدْرُونَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ ؟ " قَالُوا : اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ . قَالَ : " أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي كَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ وَأَمَّا مَنْ قَالَ بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ

“Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- shalat Shubuh bersama kami di Hudaibiyah di suatu malam. Setelah selesai, Nabi menghadap kepada jama’ah dan bersabda: “Apakah kalian tahu apa yang telah dikatakan oleh Rabb kalian?” Mereka berkata: “Allah dan Rasulnya yang lebih tahu”, Beliau bersabda: “Di pagi hari ada sebagian umatku yang beriman dan kafir kepada-Ku, adapun orang yang berkata, ‘Kita diberi hujan karena karunia Allah dan rahmat-Nya' maka dengan itu dia beriman kepada-Ku, dan kafir kepada bintang. Adapun orang yang berkata (kami diberi hujan)  karena bintang ini dan itu, maka dia telah kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang.”.

Kufur di sini Terdapat di dalam tafsirnya pada riwayat yang lain dari Abu Hurairah bersabda: “Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda tidakkah kalian melihat kepada apa yang dikatakan oleh Tuhan kalian ?”, Dia berfirman:

مَا أَنْعَمْتُ عَلَى عِبَادِي مِنْ نِعْمَةٍ إِلَّا أَصْبَحَ فَرِيقٌ مِنْهُمْ بِهَا كَافِرِينَ يَقُولُونَ الْكَوَاكِبُ وَبِالْكَوَاكِبِ

“Tidaklah aku beri nikmat kepada para hamba-Ku kecuali sebagian mereka di pagi hari ada kelompok yang menjadi kafir dengan berkata bahwa bintang tertentu (memberi rizki) atau (mendapat rizki) sebab bintang.”

Maka di sini dijelaskan bahwa barangsiapa menisbatkan turunnya hujan kepada bintang yang dianggap sebagai sebab turunnya –dan realitanya bahwa Allah tidak menjadikannya sebab untuk itu- maka dia telah kafir kepada-Nya, sebab mengingkari nikmat Allah kepadanya. Perlu diketahui bahwa kufur nikmat adalah kufur kecil, adapun orang yang meyakini bahwa planet itulah yang mengendalikan jagad raya, dan bahwa dia lah yang menurunkan hujan dan maka hal ini adalah syirik besar.

Dan syirik kecil terkadang menjadi tampak, seperti memakai gelang, benang, jimat (dengan keyakinan sebagai sebab keselamatan) atau lain sebagainya berupa amalan dan ucapan.

  1. adang pula tersembunyi seperti riya ringan. Terkadang pula berupa keyakinan: Seperti meyakini sesuatu menjadi sebab datangnya manfaat dan mencegah bahaya, dan Allah tidak menjadikannya sebab untuk hal itu. Atau meyakini keberkahan sesuatu, dan Allah tidak menjadikannya ada keberkahan pada hal itu.

Terkadang berupa ucapan: Seperti orang yang berkata: “Kita diberi hujan karena bintang ini dan itu”; Tanpa meyakini bahwa bintang sendiri itulah yang menurunkan hujan, atau bersumpahh dengan selain Allah tanpa meyakini keagungan yang dijadikan objek sumpah, dan tidak juga menyamainya dengan Allah. Atau juga (termasuk sirik kecil) seseorang berkata: ‘Sesuai kehendak Allah dan kehendakmu’. Dan lain sebagainya.

Terkadang berupa perbuatan: Seperti orang yang menggantungkan jimat, atau memakai gelang, atau tali, dan yang lainnya untuk menolak dan mengangkat bala’; karena setiap orang yang menetapkan sesuatu menjadi sebab dan Allah tidak menjadikannya sebagai sebab baik menurut syari’at atau takdir, maka dia telah melakukan syirik kepada Allah. Demikian juga orang yang mengusap sesuatu dengan mengharap berkahnya dan Allah tidak menjadikan keberkahan ada di sana, seperti mencium atau mengusap pintu masjid, mengharap kesembuhan dari debunya, dan prilaku lainnya.

Inilah penjelasan ringkas, tentang pembagian syirik besar dan kecil. Perinciannya tidak mungkin dijelaskan pada jawaban singkat ini.

Penutup:

Selanjutnya, diwajibkan bagi seorang muslim agar waspada kepada kesyirikan baik yang kecil maupun yang besar, karena kemaksiatan yang terbesar adalah durhaka kepada Allah dengan syirik kepada-Nya, dan melampaui akan hak-Nya; yaitu beribadah, taat hanya kepada-Nya tidak ada sekutu bagi-Nya.

Oleh kerenanya, Allah mewajibkan kekekalan di neraka bagi orang-orang musyrik, dan mengabarkan bahwa mereka tidak diampuni dan mengharamkan surga kepada mereka, sebagaimana dalam firman-Nya:

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْماً عَظِيماً

سورة النساء: 48

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), tetapi Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Siapa pun yang mempersekutukan Allah sungguh telah berbuat dosa yang sangat besar”. (QS. An Nisa’: 48)

Dan Dia berfirman:

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

سورة المائدة: 72

“Sesungguhnya siapa yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya dan tempatnya yaitu neraka. Tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu”. (QS. Al Maidah: 72)

Maka diwajibkan kepada setiap orang yang berakal dan beragama, agar takut atas dirinya dari kesyirikan dan berlindung kepada Rabb nya memohon kepada-Nya agar menyelamatkannya dari kesyirikan, sebagaimana ucapan Al Kholil Ibrahim –‘alaihis salam- :

 وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الأَصْنَامَ

سورة إبراهيم: 35

“Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari penyembahan terhadap berhala-berhala”. (QS. Ibrahim: 35)

Dan sebagian ulama salaf berkata:

“Siapakah yang merasa aman dari ujian setelah Ibrahim?”.

Maka seorang hamba yang jujur tidak ada cara kecuali agar membesarkan rasa takutnya dari kesyirikan, dan memperbesar harapannya kepada Tuhannya agar menyelamatkannya, berdoa dengan doa yang agung yang telah diajarkan oleh Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- kepada para sahabatnya:

الشرك فيكم أخفى من دبيب النمل ، وسأدلك على شيء إذا فعلته أذهب عنك صغار الشرك وكباره تقول ‏:‏ ‏اللهم إني أعوذ بك أن أشرك بك وأنا أعلم، وأستغفرك لما لا أعلم‏ (صححه الألباني في صحيح الجامع، رقم 3731)

“Syirik pada diri kalian itu lebih halus dari pada jalannya semut, dan saya akan menunjukkan kepada anda sesuatu, yang jika anda melakukannya anda akan selamat dari syirik kecil dan besar, ucapkan: “Ya Allah, sungguh aku berlindung kepada-Mu untuk berbuat syirik sedang aku mengetahuinya, dan aku mohon ampun kepada-Mu dari (syirik) yang aku tidak ketahui”. (Dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Shahih Al Jami, no. 3731)

Penjelasan di atas adalah perbedaan antara syirik besar dan kecil dari sisi yang sebenarnya dan definisi dari setiap bagian dan penjelasan macam-macamnya.

Adapun perbedaan antar keduanya dari sisi hukum adalah:

Bahwa syirik besar itu mengeluarkan pelakunya dari Islam, dan maka pelakunya dihukumi sebagai keluar dari Islam dan murtad darinya, maka menjadi kafir murtad.

Adapun syirik kecil, maka tidak mengeluarkan pelakunya dari Islam, Dapat terjadi pada umat Islam dan dia tetap pada keislamannya, hanya saja pelakunya berada dalam bahaya yang besar; karena syirik kecil termasuk dosa besar, sampai Ibnu Mas’ud –radhiyallahu anhu- berkata:

“Aku bersumpah dusta kepada Allah lebih aku sukai dari pada bersumpah kepada selain-Nya dengan jujur”

Beliau –radhiyallahu ‘anhu- telah menjadikan bersumpah kepada selain Allah termasuk syirik kecil, lebih buruk dari pada bersumpah kepada Allah dengan dusta, dan seperti yang diketahhui bahwa bersumpah kepada Allah dengan dusta termasuk dosa besar.

Semoga Allah menguatkan hati kita kepada agama-Nya, sampai kita bertemu dengan-Nya, dan berlindung dengan keperkasaan-Nya –subhanahu- agar tidak menyesatkan kita, karena Dia-laj Dzat Yang Maha Hidup yang tidak mati, jin dan manusia akan mati. Wallahu A’lam wa Ahkam.

Dan kepada-Nya kita akan kembali.

Refrensi: Soal Jawab Tentang Islam