Sabtu 16 Dzulhijjah 1445 - 22 Juni 2024
Indonesian

Apakah Kandungan Air Berubah Ketika Dibacakan Al-Al-Qur’an Atasnya?

343360

Tanggal Tayang : 19-04-2023

Penampilan-penampilan : 1550

Pertanyaan

Ada orang menyangka bahwa air itu punya memori dan susunan kimianya akan berubah ketika dibacakan Al-Al-Qur’an dan zikir-dzikir di dalamnya. Pendidikan saya perguruan tinggi dan saya tidak meyakini akan hal itu. Mohon penjelasan akan masalah pengaruh Al-Qur’an Karim atas susunan air.

Teks Jawaban

Alhamdulillah.

Informasi ini yang dinukil oleh sebagian orang terkait dengan dampak Al-Qur’an atas susunan air, info ini sumberinya adalah dari seorang Jepang non muslim. Kesimpulan dari orang yang mengenalnya bahwa spesialisasi dia adalah pengobatan alternatif bukan spesialisasi ilmuan yang dikenal.

Seorang muslim ketika melihat kabar semacam ini dan dalam kondisi seperti ini hendaknya crosscek, sebagaimana Al-Al-Qur’an Al-Karim memberikan petunjuk tentang hal itu sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

سورة الحجرات: 6

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti.” (QS. Al-Hujarat: 6)

Kami belum menemukan dari ilmuan terperecaya yang menconfirm perkatan orang Jepang ini tentang pengaruh bacaan Al-Qur’an terhadap susuan air atau penjelasan mereka secara ilmiah sesuai bidang keilmuaan yang sesuai.

Selayaknya jangan memberitahukan kepada khalayak informasi semacam ini, yang belum ada penelitian dari lembaga keilmuan terpercaya dan diterima persaksiannya secara agama. Karena menukilkan informasi semacam ini tanpa ada penelitian dengan baik terkadang justeru menimbulkan keraguan dalam agama dan orangnya.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam ‘Muqoddimah As-Shahih’, (1/11) dari Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah, sesungguhnya Abdullah bin Mas’ud berkata:

مَا أَنْتَ بِمُحَدِّثٍ قَوْمًا حَدِيثًا لَا تَبْلُغُهُ عُقُولُهُمْ، إِلَّا كَانَ لِبَعْضِهِمْ فِتْنَةً

Tidaklah anda mengatakan suatu perkataan kepada suatu kaum yang belum dapat dijangkau akal mereka, melainkan akan terjadi fitnah pada sebagian mereka.”

Seorang muslim hendaknya meyakini dengan kebenaran wahyu. Cukup baginya membenarkan apa yang ada dari keberkahan air zam-zam, keberkahan dari ruqyah syar’iyyah, maka tidak perlu bagi kita untuk membebani suatu perkataan yang kita belum tahu tentang cara dampaknya terhadap air ini dan ruqyah ini kepada jasad.

Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ

سورة ص: 86

“Katakanlah (hai Muhammad): "Aku tidak meminta upah sedikitpun padamu atas da'wahku dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan.” (QS. As-Shad: 86)

Dari Masruq, dia berkata, “Kami masuk ke (rumah) Abdullah bin Mas’ud,  dia berkata, “Wahai manusia, siapa yang mengetahui sesuatu hendaknya dia mengatakannya. Dan siapa yang tidak mengetahui, maka hendaknya dia mengatakan ‘Allahu a’lam (Allah lebih mengetahuinya). Karena termasuk suatu ilmu adalah mengatakan apa yang tidak diketahui dengan ucapan ‘Allah A’lam’. Allah azza wa jalla berfirman kepada Nabi-Nya sallalahu alahi wa sallam:

قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ

سورة ص: 86

“Katakanlah (hai Muhammad): "Aku tidak meminta upah sedikitpun padamu atas da'wahku dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan.” (QS. As-Shad: 86)  (HR. Bukhori, no. 4809) dan Muslim, no. 2798).

Ath-Thabari rahimahullah berkata “Firman Allah وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ maksudnya adalah ‘Saya tidak termasuk orang yang mengada-adakan dalam  kebohongan dan  fitnah. Yaitu dengan mengatakan إِنْ هَذَا إِلا إِفْكٌ افْتَرَاهُ ‘Al Quran ini tidak lain hanyalah kebohongan yang diada-adakan oleh Muhammad.’ (QS. Al-Fuqon: 4) dan إِنْ هَذَا إِلا اخْتِلاقٌ ‘ini (mengesakan Allah), tidak lain hanyalah (dusta) yang diada-adakan.’  (QS. Shaad: 7).

Sebagaimana Yunus memberitahukan kepadaku, dia berkata, “Ibnu Wahb memberitahukan kepada kami, berkata Ibnu Zaid mengatakana terkait dengan firman Allah Ta’ala:

قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ

سورة ص: 86

“Katakanlah (hai Muhammad): "Aku tidak meminta upah sedikitpun padamu atas da'wahku dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan.” (QS. Shaad: 86)

‘Saya tidak meminta upah sedikitpun dari kalian atas Al-Qur’an yang saya sampaikan. Dan saya juga tidak termasuk orang yang mengada-ada  dalam menyerukan sesuatu yang Allah tidak perintahkan kepadaku.” (Tafsir At-Thabari, 20/150)

Ibnu Rojab rahimahullah mengatakan, “Di antara yang termasuk larangan adalah terlalu berlebihan dalam mencari sesuatu, termasuk urusan kabar gaib yang diperintahkan untuk mengimaninya namun tidak dijelaskan rinciannya. Sebagian lain terkadang tidak ada di alam yang nyata ini. Maka mencari tentang rincian akan hal itu termasuk sesuatu yang tidak bermanfaat dan dia termasuk yang dilarang. Bahkan terkadang hal ini menyebabkan seseorang menjadi bingung dan ragu sampai pada tingkat mendustakan.”

Ishaq bin Rahuyah mengatakan, “Tidak dibolehkan memikirkan tentang Al-Kholiq (pencipta), manusia dibolehkan memikirkan tentang semua makhluk (ciptaan) dari apa yang didengarkan tentang mereka. Dan jangan lebih dari itu, kalau mereka melakukan hal itu, maka akan tersesat. Allah berfirman:

وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ

“Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya.” (QS. Al-IsrA: 44)

Maka jangan mengatakan, “Bagaimana cara bertasbihnya mangkok, meja makan, roti bakar dan baju yang ditenun? Memang telah ada riwayat yang shahih, bahwa semua makhluk bertasbih, namun hal itu dikembalikan kepada Allah bagaimana Dia menjadikan semuanya bertasbih bagaimana caranya. Manusia tidak perlu mendalami hal itu kecuali apa yang diketahuinya saja. Dan jangan berbicara akan hal ini serta menyerupakan kecuali apa yang Allah kabarkan, tidak menambah dari hal itu. Maka bertaqwalah kepada Allah, dan jangan terlalu masuk ke sesuatu yang samar-samar, karena hal tersebut akan menyebabkan kalian melampaui batas dari ajaran kebenaran.” (Jami’ul-Ulum wal Hikam, 2/172-173).

Wallahu a’lam

Refrensi: Soal Jawab Tentang Islam