Rabu 6 Jumadil Ula 1444 - 30 November 2022
Indonesian

Apakah Nama-Nama Surat Al-Qur’an Al-Karim Bersifat Tauqifiyah (Ditetapkan berdasarkan wahyu)?

Pertanyaan

Kapan ditetapkan nama-nama surat Al-Qur’an saat wahyu masih diturunkan. Apakah Nabi sallallahu alaihi wa sallam yang menetapkan nama surat-surat tersebut saat beliau masih hidup? Ataukah ditetapkan para shahabat sesudahnya saat mereka mengumpulkan Al-Qur’an dalam satu mushaf pada masa pemerintahan Umar dan Utsman radhiallahu anhum?

Teks Jawaban

Alhamdulillah.

Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam telah menetapkan nama-nama sebagian surat Al-Qur’an. Seperti surat Al-Fatihah, Al-Baqarah, Ali Imran dan Al-Kahfi. Para ulama berbeda pendapat, apakah semua nama-nama semua surat Al-Qur’an Al-Karim ditetapkan oleh Nabi sallallahu alaihi wa sallam ataukah sebagiaannya ditetapkan berdasarkan ijtihad para sahabat radhiallahu anhum. Mayoritas ulama berpendapat bahwa semua nama-nama surat Al-Qur’an itu tauqifiyah (paten) dari Nabi sallallahu’alaihi wa sallam.

Imam Ibnu Jarir At-Thabari rahimahullah berkata, “Al-Qur’an mempunyai nama-nama surat yang dinamai oleh Rasulullah sallallahu’aaihi wa sallam.” (Jami’ul Bayan, 1/100)

Az-Zarkasyi rahimahullah berkata, “Selayaknya nama-nama surat yang mulia diteliti lagi, apakah ia tauqifi (paten) atau memang disesuaikan dengan apa yang tampak dari surat tersebut? Kalau maksudnya yang kedua, maka akal tidak cukup untuk menggali kandungan makna yang banyak sesuai dengan akar kata dari nama tersebut. Hal ini jauh sekali.” (Al-Burhan Fi Ulumi Qur’an, 1/270).

As-Suyuthi rahimahullah berkata, “Nama-nama surat (Qur’an) sudah ditetapkan secara tauqify (paten) berdasarkan riwayat hadits dan atsar. Kalau tidak khawatir terlalu panjang, akan saya jelaskan hal tersebut.” (Al-Itqon, 1/148).

Syekh Sulaiman Al-Bujairimy rahimahullah berkata, “Nama-nama surat itu ditetapkan oleh Nabi sallallahu’alaihi wa sallam. Karena nama-nama surat, urutan-urutannya dan urutan ayatnya, ketiganya ditetapkan secara itu tauqif (paten) dari Nabi sallallahu’alaihi wa sallam. Malaikat Jibril alaihissalam yang telah memberitahukannya bahwa hal ini sudah tercantum dalam Lauhil Mahfuz.” (diringkas dari kitab Tuhfatul Habib alas Syarh Al-Khatib, 2/163).

Al-Allamah At-Tohir bin Asyur rahimahullah berkata, “Nama-nama surat telah ditetapkan  sejak turunnya wahyu. Tujuannya penamaannya adalah untuk memudahkan mengulang-ulang dan mengingatnya.”  (At-Tahrir wat tanwir, 1/88).

Pendapat ini yang dipilih oleh sebagian ulama kontemporer yang menulis tentang  Ulumul Qur’an (Ilmu-ilmu Al-Quran). Seperti Dr. Fahd Ar-Rumi dalam kitab Dirosat Fi Ulumil Qur’an’, hal. 118 dan Dr. Ibrahim Al-Huwaimil dalam pembahasan Al-Mukhtasor Fi Asmais Suwar (ringkasan tentang nama-nama surat) di Majalah Jami’ah Al-Imam, edisi 30 hal. 135.

Sementara itu sebagian ulama berpendapat bahwa sebagian nama-nama surat Al-Qur’an Al-Karim ditetapkan oleh Nabi sallalahu’alaihi wa sallam sedangkan sebagiannya ditetapakan berdasarkan  ijtihad para shahabat radhiallahu anhum.

Terdapat dalam Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 4/16, “Kami tidak mengetahui nash (teks) dari Rasullullah sallallahu alaihi wa sallam yang menunjukkan bahwa semua surat diberikan nama oleh beliau. Akan tetapi terdapat beberapa hadits shahih Nabi sallallahu alaihi wa sallam memberikan sebagian nama seperti Al Baqarah, Ali Imran. Adapun sisa surat lainnya, pendapat yang lebih kuat adalah diberi nama oleh para shahabat radhiallahu’anhum.”

Pendapat ini dikuatkan oleh Dr. Munirah Ad-Dausari dalam tesisnya ‘Asma Suwaril Qur’anil Karim wa Fadhoiliha (Nama-nama surat Al Qur’an dan keutamaannya)’.

Wallahu a’lam

Refrensi: Soal Jawab Tentang Islam