Donasi untuk situs islamqa.info

Kami memohon donasi dengan suka rela untuk mendukung situs ini, agar situs anda -islamqa.info – berkelanjutan dalam melayani Islam dan umat Islam insyaallah

Membenci Kehidupan dan Berangan-angan Untuk Mati

01-03-2021

Pertanyaan 105437

Bagaimanakah hukum syari’at ini terkait dengan seseorang yang sangat membenci kehidupan ini, dan memohon kepada Allah agar mengakhiri hidupnya jika hal itu baik baginya, dan menunggu kematian ?

Teks Jawaban

Alhamdulillah.

Tidak dibolehkan bagi seorang muslim untuk membenci kehidupan ini dan berputus asa dari apa yang ada di sisi Allah dari jalan keluar dan kebaikan, dan diwajibkan kepadanya untuk bersabar pada takdir Allah yang ia hadapi dan berharap kepada Allah dari musibah-musibah yang ia alami, dan memohon kepada-Nya agar Dia memalingkannya dari hal tersebut, menolong dan memberikan pahala kepadanya, menunggu jalan keluar dari-Nya, Allah subhanahu berfirman:

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا * إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا الشرح /5، 6

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”. (QS. Asy Syarhu: 5-6)

Dan seorang muslim tidak disukai untuk meminta kematian karena penderitaan yang ia alami, seperti karena sakit, sempitnya dunia, atau karena hal lainnya.  Dan di dalam kitab Shahihain dari Anas –radhiyallahu ‘anhu- berkata: “Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda:

لا يتمنين أحدكم الموت لضر نزل به ، فإن كان فاعلاً فليقل : اللهم أحيني ما كانت الحياة خيراً لي ، وتوفني إذا كانت الوفاة خيراً لي

“Janganlah seseorang di antara kalian berangan-angan untuk mati karena penderitaan yang ia alami, kalau ia ingin melakukannya maka ucapkanlah: “Ya Allah, hidupkanlah aku jika kehidupan itu lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika kematian itu lebih baik bagiku”.

Pada gambaran yang tersebut di dalam hadits di atas ada semacam penyerahan diri dan pasrah kepada takdir Allah. Dan musibah apa saja yang seorang muslim derita di dunia akan menjadi penggugur dosa, jika ia berharap kepada Allah Ta’ala dan tidak merasa kecewa, hal tersebut menjadi pemicu sadarnya hati dari kelalaian, dan menjadi pelajaran untuk masa yang akan datang.

Dan petunjuk itu datangnya dari Allah, semoga shalawat dan salam  terlimpah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya. Selesai.

Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Syeikh Abdul Aziz Alu Syeikh, Syeikh Sholeh Al Fauzan, Syeikh Bakr Abu Zaid.

Fatawa Lajnah Daimah lil Buhuts Ilmiyyah wal Ifta’: 25/398

Problematika Kejiwaan dan Sosial
tampilan di situs islamqa.info