Hadits tersebut lafadznya bukanlah:
"Janganlah kalian mencela Al-Waktu karena sesungguhnya Allah itu
adalah Al-Waktu."
Tetapi lafadz yang benar adalah:
"Janganlah kalian mencela Ad-Dahr karena sesungguhnya Allah itu Ad-Dahr."
Sedangkan lafadz tadi barangkali hanya karena penerjemahan dari pertanyaan.
Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah Radhiallahu 'Anhu (5827).
Dan di dalam lafadz lain:
"Janganlah salah seorang di antara kalian mencela Ad-Dahr karena
sesungguhnya Allah adalah Ad-Dahr (waktu)."
Dan di dalam lafadz lain:
"Janganlah salah seorang di antara kalian berkata: 'Wahai dahr (waktu)
yang sial' karena sesungguhnya Allah adalah Ad-Dahr."
Di dalam lafadz lainnya lagi Allah berfirman:
"Anak Adam telah menyakiti-Ku, dia berkata: 'Wahai waktu yang sial
!' Maka janganlah kalian berkata: 'Wahai waktu yang sial' karena Aku adalah
Ad-Dahr (waktu). Aku membolak-balikkan malam dan siang, maka apabila Aku menghendaki
pasti Kucabut kedua-duanya."
Adapun makna hadits, dijelaskan oleh Imam An-Nawawi rahimahullah:
"Mereka (para ulama) berkata bahwa hadits ini adalah ungkapan (bukan
hakiki) karena dulu orang Arab suka mencela waktu ketika terjadi malapetaka
dam musibah yang menimpa mereka, baik berupa kematian, pikun, kehilangan harta
dan yang lainnya, lalu mereka berkata: "Wahai waktu yang sial!' atau
kalimat lainnya yang mengandung celaan terhadap waktu. Maka berkatalah Nabi
Shalallahu 'Alaihi Wassalam:
"Janganlah kalian mencela waktu karena sesungguhnya Allah itu adalah
waktu."
Artinya janganlah kalian mencela pembuat kejadian karena apabila kalian mencela
pembuat kejadian terkenalah celaan itu kepada Allah Ta'ala, karena Dialah
Pembuat kejadian itu. Adapun Ad-Dahr itu sendiri maknanya adalah waktu (masa),
dia tidak punya perbuatan bahkan dia adalah makhluk di antara makhluk-makhluk
Allah Ta'ala. Dan makna "Sesungguhnya Allah adalah Ad-Dahr (waktu)"
artinya pembuat dan pencipta peristiwa dan kejadian. Wallahu A'lam."
(Syarah Muslim 3/10)
Harus diketahui pula bahwa Ad-Dahr bukanlah salah satu di antara nama-nama
Allah. Adapun penisbatan Ad-Dahr kepada Allah hanyalah penisbatan penciptaan
dan pengaturan. Artinya Dialah yang menciptakan dan yang mengatur Ad-Dahr
(waktu) karena adanya beberapa lafadz di dalam hadits lain yang semakna.
Seperti firman Allah :
" Di tangan-Kulah segala urusan. Aku bolak-balikkan malam dan siang."
Maka tidak mungkin di dalam hadits ini yang membolak-balikkan dan yang dibolak-balikkan
adalah sama, akan tetapi yang membolak-balikkan adalah Allah sedangkan yang
dibolak-balikkan adalah waktu yang diatur oleh Allah baik kejadiannya ataupun
waktunya sesuai dengan kehendak-Nya. (Lihat: Fatawa Aqidah Syaikh Al Utsaimin
9/163).
Al Hafidz Ibnu Katsir, ketika menafsirkan firman Allah Ta'ala yang berbunyi:
"Dan mereka berkata: 'Hal itu tidak lain kecuali hanya kehidupan
kita di dunia, kita mati hidup dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan
kita kecuali Ad-Dahr (waktu)." (Al Jatsiyah :5).
Berkata (Ibnu Katsir): "Telah berkata Syafii, Abu Ubaidah, dan yang
lainnya ketika menafsirkan perkataan Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam: "Janganlah
kalian mencela waktu karena sesungguhnya Allah itu adalah waktu." Dahulu
orang Arab di zaman jahiliyah, bila mereka ditimpa kesulitan, musibah, atau
bencana, mereka berkata: 'wahai waktu yang sial' lalu mereka menyandarkan
kejadian itu kepada waktu dan mencelanya, padahal pembuat kejadian itu hanyalah
Allah Ta'ala maka seolah-olah mereka hanyalah mencela Allah Subhanahu Wa Ta'ala
karena sesungguhnya Dialah pembuat kejadian itu secara hakiki. Oleh karena
itu Dia melarang mencela waktu dengan ungkapan tadi karena Allah adalah Ad-Dahr
yang mengatur waktu dan mereka mengandarkan kejadian itu kepada-Nya. Inilah
sebaik-bail perkataan dalam menafsirkan hadits ini dan inilah yang dimaksud.
Wallahu A'lam (Tafsir Ibnu Katsir 4/152)
As-Syaikh Al Utsaimin telah ditanya tentang hukum mencela waktu, lalu beliau
menjawab sbb :
Mencela waktu terbagi menjadi tiga bagian :
Pertama: Dimaksudkan hanya sekedar mengabarkan tanpa bermaksud mencela.
Maka ini boleh. Seperti berkata: "Kita sangat kepayahan dengan amat panasnya
hari ini atau amat dingin." Atau dengan kalimat yang senada dengan itu,
karena setiap amal itu tergantung niat dan kalimat itu benar hanya pengabaran.
Kedua: Mencela waktu dengan anggapan bahwa waktulah sebagai pembuat
kejadian. Seperti mencela waktu dengan anggapan bahwa waktulah yang membolak-balik
urusan menjadi baik atau buruk. Maka ini adalah musyrik besar karena dia meyakini
ada pencipta lain selain Allah karena dia menisbatkan kejadian kepada selain
Allah.
Ketiga: Mencela waktu dan meyakini bahwa pembuat adalah Allah tapi
dia mencela waktu karena hal-hal yang dibenci, maka ini adalah haram karena
menghapus kesabaran yang diwajibkan dan ini tidak termasuk kafir karena dia
tidak mencela Allah secara langsung. Seandainya dia mencela Allah secara langsung
maka kafirlah dia. (Fatawa Aqidah 1/197)
Dan di antara kalimat-kalimat yang mungkar di tengah-tengah manusia adalah
suka melaknat waktu atau hari ketika terjadi sesuatu yang tidak disukai di
dalamnya maka dia berdosa atas laknat dan kata-kata jeleknya, selain itu diapun
berdosa pula karena melaknat sesuatu yang tidak berhak dilaknat. Lalu apakah
dosa waktu dan hari? Dia itu tidak lain kecuali hanya sarana masa terjadinya
sesuatu. Dia hanyalah makhluk yang tidak punya andil mengatur ataupun dosa.
Demikian pula bila seseorang mencela waktu celaan itu akan kembali kepada
Pencipta waktu. Maka hendaklah setiap muslim membersihkan lisannya dari kekejian
dan kemunkaran ini, dan Allahlah tempat minta pertolongan.