Alhamdulillah
Takut terhapus amalan dan perhitungan yang
buruk di hari kiamat, adalah salah satu amalan hati. Hal itulah yang
menyebabkan orang-orang saleh dan bertakwa dahulu menjauhi tempat tidur dan
sedikit. Lalu para ahli ibadah bercucuran air matanya yang Allah berikan
sifat hatinya dengan sifat takut dan bersegera melakukan amal kebaikan.
Hal tersebut disebutkan dalam Firman-NYa Azza
Wa Jalla:
وَالَّذِينَ
يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ
رَاجِعُونَ . أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ
(سورة المؤمنون:
60-61)
“Dan
orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang
takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada
Tuhan mereka. mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan
merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (QS. Al-Mukminun: 60-61)
Dari Aisyah radhiallahu’anha berkata, ‘Saya
bertanya Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam tentang ayat ini; “Dan
orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang
takut,"
Apakah karena mereka itu minum khamr dan mencuri? Beliau
menjawab: “Tidak wahai Binti As-Siddiq, mereka berpuasa, shalat dan
bersedekah, akan tetapi mereka takut (amalannya) tidak diterima. Mereka
adalah mendapatkan kebaikan-kebaikan." (HR. Tirmizi, no.3175, dishahihkan
oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’anul Al-Adzim, 1/176)
Meskipun begitu, rasa takut tersebut tidak
menghalangi dan melemahkan mereka untuk beramal. Atau putus asa dan
was-was, sehingga mengabaikan kandungan puluhan ayat tentang harapan di
dalam Al-Qur’anul Karim.
Apakah anda tidak mendengar Firman Allah Azza
Wa Jalla:
إِنَّ اللَّهَ لا
يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ
لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا (سورة النساء:
40)
"Sesungguhnya Allah tidak
menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar
zarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya
pahala yang besar.” (QS. An-Nisaa: 40)
Juga Firman-Nya:
مَنْ جَاءَ
بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ خَيْرٌ مِنْهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلا يُجْزَى
الَّذِينَ عَمِلُوا السَّيِّئَاتِ إِلا مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (سورة القصص:
84)
“Barangsiapa
yang datang dengan (membawa) kebaikan, maka baginya (pahala) yang lebih baik
daripada kebaikannya itu; dan barangsiapa yang datang dengan (membawa)
kejahatan, maka tidaklah diberi pembalasan kepada orang-orang yang telah
mengerjakan kejahatan itu, melainkan (seimbang) dengan apa yang dahulu
mereka kerjakan.” (QS. Al-Qashash: 84)
Firmnan-Nya yang lain,
“Sesunggunya
mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan
menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang
baik. Mereka itulah (orang-orang yang) akan mendapat surga
'Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi
dengan gelang mas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan
sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang
indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang
indah.” (QS. Al-Kahfi: 30-31)
Juga firman-Nya,
“Maka
sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat
baik". (QS. Yusuf: 90)
Maka seharusnya seorang
muslim hendaknya beriman –dengan keimanan yang benar dan terlihat dampaknya
pada anggota tubuh dan hati- dengan keadilan dan kemuliaanNya. Dan bahwa
Allah subahanu wa Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat
kebaikan. Dia tidak akan berbuat kezaliman meskipun seberat biji zarah,
bahkan akan membalas kebaikan dengan kebaikan, dan kejelekan dengan
memaafkan dan mengampuni bagi siapa saja yang dikehendakiNya Azza Wa jalla.
Dengarkanlah wahai hamba Allah terhadap seruan Tuhan anda kepada kita, dan
pemberitaan nan benar tentang Diri-Nya Subhanahu wata’ala yang menyeru
kepada akal dan hati secara bersamaan,
مَا يَفْعَلُ
اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا
عَلِيمًا (سورة النساء:
147)
"Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu
bersyukur dan beriman? Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha
Mengetahui." (QS. An-Nisa: 147)
Syekh As-Sa’dy rahimahullah berkata dalam
tafsirnya tentang hal itu:
“Allah Ta’ala memberitahukan akan
kesempurnaan kekayaan-Nya, keluasan Lembut-NYa, rahmat dan ihsan-Nya dengan
berfirman ‘Mengapa Allah akan
menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman, sedangkan Allah adalah Maha
Mensyukuri lagi Maha Mengetahui. Sementara kondisinya adalah bahwa Allah
Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui. Memberikan pahala yang banyak dan
keluasan ihsan kepada orang yang sabar dalam lelah dan senantiasa beramal.
Barangsiapa yang meninggalkan sesuatu karena Allah, maka Allah akan
memberikan kepadanya yang lebih baik dari itu. meskipun Dia mengetahui yang
nampak dan tersembunyi, amalan-amalan yang berasal dari anda dengan penuh
ikhlas dan jujur atau sebaliknya, Dia menginginkan dari kalian bertaubat dan
kembali kepadaNya. Kalau kamu semua bertaubat kepadaNya, kenapa akan
menyiksa anda? Hal itu tidak berguna dengan menyiksamu, dan tidak bermanfaat
dengan menghukummu. Bahkan orang yang berbuat maksiat, tidak ada yang dia
rugikan kecuali pada dirinya sendiri. Sebagaimana orang yang taat,
manfaatnya untuk dirinya sendiri juga.
Syukur adalah ketundukan
hati dan pengakuan akan nikmat Allah, menyanjung dengan lisan kepada yang
disyukuri, melakukan ketaatan dengan anggota tubuh serta tidak mempergunakan
nikmat-nikmatNya dengan berbuat kemaksiatan.” (Tafsir As-Sa’dy, hal. 211)
Sungguh, sifat khawatir dari perhitungan
buruk dan terhapusnya amal merupakan sebab penting dalam memperbaiki
kehidupan dunia dengan mengisinya dalam bentuk melakukan amalan saleh dan
akhlak yang mulia. Sebagaimana yang telah ditegaskan hal itu di Al-Qur’an
Al-Karim pada ayat tadi dalam firmanNya Azza wa jalla "Mereka
itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang
yang segera memperolehnya.” (QS. Al-Mukminun: 60-61)
Hal itu kembali diisyaratkan ketika Allah
mengaitkan kekhawatiran hisab yang buruk di hari kiamat dengan silaturahim,
para fakir dan orang yang membutuhkan. Sebagaiman Firman-Nya,
‘Dan
orang-orang yang menghubungkan apa-apa yang Allah perintahkan supaya
dihubungkan, dan mereka takut kepada Tuhannya dan takut kepada hisab yang
buruk.” (QS. Ar-Ra’du: 21)
Oleh karena Fudhail bin
Iyad rahimahullah berkata:
“Barangsiapa yang takut
kepada Allah, maka ketakutan itu akan menunjukkan kepada semua kebaikan.”
Abu Hamid Al-Gozali
rahimahullah berkata setelah mengklasifikasikan khauf (takut) menjadi
tiga kondisi; pertengahan, kurang dan berlebihan: “Orang yang berlebihan,
apabila kekhawatirannya berlebihan dan melewati batas pertengahan hingga
mengakibatkan putus asa. Hal itu tercela juga, karena menghalangi seseorang
untuk beramal. Bisa jadi khauf (takut) melahirkan sakit dan lemah. Atau
panik, kaget dan hilang akal. Yang diminta dari khauf (rasa takut) di sini
adalah yang mampu mendorong amal. Kalau bukan karena itu, maka rasa takut
tidak menjadi sebab kesempurnaan. Ketika melahirkan keputus asaan, maka itu
tercela. Ia seperti pukulan yang dapat mematikan bayi, atau cambukan yang
membinasakan hewan tunggangan atau membuat sakit atau patah salah satu
tulangnya. Sesungguhnya Rasulullah sallallahu’alaih wa sallam menyebutkan
pengharapan lebih banyak, adalah untuk mengobati pukulan rasa takut yang
berlebihan sampai putus asa atau salah satu dari perkara ini.
Intinya adalah; Terpuji
jika mendorong terwujudnya tujuan, sedangkan kalau menyebabkan kekurangan
atau berlebihan maka itu tercela. Manfaat rasa takut adalah kehati-hatian,
wara’, ketakwaan, mujahadah (semangat), ibadah, berfikir, zikir dan seluruh
sebab yang menghantarkan kepada Allah Ta’ala. Semuanya ini menjadikan
kehidupan sehat, baik badan maupun keselamatan akal. Sementara yang
menyebabkan lalai adalah tercela.” (Ihya Ulumud Din, 4/ 157-158)
Kesimpulannya adalah bahwa
syariat menyuruh anda untuk seimbang antara rasa takut dengan rasa harap.
Seimbang antara takut dan cita-cita. Jangan mengalahkan salah satu di antara
keduanya. Akan tetapi berjalan keduanya menuju Allah bagaikan burung terbang
dengan kedua sayapnya. Jangan sampai setan mengganggu anda sehingga membuat
anda lemah dari sisi pengharapan. Sementara anda melupakan dalil-dalil
mutawatir dalam Kitab dab Sunnah yang menunjukkan akan luasnya kemurahan dan
kedermawanan Allah. Boleh jadi amal saleh ikhlas yang sedikit itu cukup
untuk dapat masuk surga.
Dari Abu Hurairah
radhiallahu’anhu, sesungguhnya Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallalm
bersabda:
بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيقٍ وَجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ عَلَى
الطَّرِيقِ فَأَخَّرَهُ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ (رواه مسلم، رقم1914)
“Ketika seseorang
berjalan di jalan, dia mendapatkan cabang duri di jalanan, kemudian
disingkirkannya. Allah berterima kasih kepadanya dan kemudian
mengampuninya.” (HR. Muslim, no. 1914)
Silahkan lihat soal jawab no.
125618.
Wallahu’alam
.