Alhamdulillah
Telah ada nash-nash terkait dengan nama Allah yang agung dalam berbagai
hadits, yang terkenal adalah:
1.
عن أبي أمامة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : ( اسْمُ
اللَّهِ الأَعظَمُ فِي سُوَرٍ مِنَ القُرآنِ ثَلاثٍ : فِي " البَقَرَةِ " وَ "
آلِ عِمرَانَ " وَ " طَهَ " ) .
رواه ابن ماجه ( 3856) و حسنه
الألباني فى صحيح ابن ماجه.
Dari Abu Umamah radhiallahu’anhu sesungguhnya Rasulullah sallallahu’alaihi
wa sallam bersabda, ‘Nama Allah yang agung ada di tiga surat AL-Qur’an, di
AL-Baqarah, Ali Imron dan Toha.’ HR. Ibnu Majah, 3856 dihasankan oleh Syekh
Al-Albany di shoheh Ibnu Majah.
2.
عَنْ أَنَسٍ أَنَّهُ كَانَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ جَالِسًا وَرَجُلٌ يُصَلِّي ثُمَّ دَعَا " اللَّهُمَّ إِنِّي
أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدُ لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ الْمَنَّانُ بَدِيعُ
السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ يَا ذَا الْجَلالِ وَالإِكْرَامِ يَا حَيُّ يَا
قَيُّومُ " ، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( لَقَدْ
دَعَا اللَّهَ بِاسْمِهِ الْعَظِيمِ الَّذِي إِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ وَإِذَا
سُئِلَ بِهِ أَعْطَى ) .
رواه الترمذي (
3544
) وأبو داود (
1495
) والنسائي (
1300
) وابن ماجه (
3858
) ، وصححه الألباني في " صحيح أبي داود " .
Dari Anas dahulu beliau bersama Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam
duduk, dan ada seseorang shalat kemudian berdoa, ‘Ya Allah, sesunggunya saya
memohon kepada-Mu. Sesungguhnya hanya milik-Mu seluruh pujian, tiada tuhan
melainkan Engkau. Yang Maha Dipuji, pencipta langit dan bumi, wahai yang
mempunyai kemulyaan dan kehormatan, wahai Maha hidup dan Mandiri. Maka Nabi
sallallahu’alaihi wa salla bersabda, ‘Sungguh dia telah berdoa kepada Allah
dengan nama-Nya yang agung, dimana kalau berdoa akan dikabulkan, kalau
meminta akan diberikan.’ HR. Tirmizi, 3544. Abu Dawud, 1495. An-Nasa’i,
1300. Ibnu Majah, 3858 disohehkan Al-Albany di shoheh Abu Dawud.
3.
عن بُرَيْدَةَ بنِ الحُصَيْب أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ سَمِعَ رَجُلا يَقُولُ " اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ أَنِّي
أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ الأَحَدُ الصَّمَدُ
الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ " ،
فَقَالَ : ( لَقَدْ سَأَلْتَ اللَّهَ بِالاسْمِ الَّذِي إِذَا سُئِلَ بِهِ
أَعْطَى وَإِذَا دُعِيَ بِهِ أَجَابَ ) .
رواه الترمذي (3475) و ابو داود
(1493) ابن ماجه (3857) و صححه الألباني في صحيح أبي داود
Dari Abu Burdah sesungguhnya Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam
mendengar seseorang berdoa, ‘Ya Allah, sesungguhnya saya memohon kepada-Mu.
Sesungguhnya saya bersaksi bahwa Engkau adalah Allah, tiada tuhan melainkan
Anda Yang Maha Esa, Tempat meminta segala sesuatu. Tidak beranak dan tidak
diperanakkan dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia.’ Maka beliau
bersabda, ‘Sungguh anda telah meminta kepada Allah dengan nama yang kalau
diminta akan diberikan, kalau berdoa akan dikabulkan.’ HR. Tirmizi, 3475.
Abu Dawud, 1493. Ibnu Majah, 3857 dishohehkan Al-Albany di Shoheh Abu Dawud.
Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata, ‘(Hadits) ini yang lebih kuat
dari sisi sanad dari semua yang ada tentang itu.’ Fathul Bari, 11/225.
4.
عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ يَزِيدَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ: ( اسْمُ اللَّهِ الأَعْظَمُ فِي هَاتَيْنِ الآيَتَيْنِ : (
وَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ ) ،
وَفَاتِحَةِ سُورَةِ آلِ عِمْرَانَ ( الم . اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ
الْحَيُّ الْقَيُّومُ ) .
رواه الترمذي (3478) و ابو داود
(1496) و ابن ماجه (3855)
Dari asma’ binti Yazid sesungguhnya Nabi sallallahu’alaihi wa sallam, ‘Nama
Allah yang agung di dua ayat ini, ‘Dan
Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha
Pemurah lagi Maha Penyayang.’
SQ. Al-Baqarah: 163 dan Pembuka surat Ali Imron, ‘Alif
laam miim. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang
hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya.
SQ. Ali Imron: 1-2.’ HR. Tirmizi, 3478. Abu Dawud, 1496 dan Ibnu Majah,
3855.
Hadits ini lemah, karena ada perowi Ubaidillah bin Abi Ziyad dan Syahr bin
Hausyab. Keduanya lemah.
Kedua,
Para ahli ilmu berbeda pendapat tentang ‘ismullah Al-A’dhom (nama Allah yang
paling Agung)’ dari sisi keberadaannya menjadi beberapa pendapat,
Pendapat pertama,
Mengingkari akan keberadaannya dari asalnya. Karena keyakinan mereka tidak
ada keutamaan antara satu nama dengan nama Allah lainnya. Mereka
mentakwilkan hadits-hadits tadi dengan mamahami dari beberapa sisi,
Sisi pertama, barangsiapa yang mengatakan makna ‘Al-A’dhom (yang paling
agung) adalah ‘AL-Adhim (Yang Maha Agung)’ bahwa tidak ada kelebihan
diantara nama-nama Allah Ta’ala.
Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata, ‘Suatu kaum telah mengingkarinya
seperti Abu Ja’far At-Tobari, Abu Al-Hasan Al-Asy’ari dan sekelompok setelah
keduanya. Seperti Abu Hatim ibnu Hibban, AL-Qodhi Abu Bakar Al-Baqolany,
mereka mengatakan, ‘Tidak diperkenankan melebihkan suatu nama dengan nama
lainnya. Dan sebagian diantara mereka menyandarkan (pendapat ini kepada)
Malik. Dan dimakruhkan mengulang-ulang sebagian surat tanpa surat lainnya,
agar tidak disangka bahwa sebagian Al-Qur’an lebih utama dibanding dengan
sebagian lainnya. Sehingga diizinkan (melakukan) hal itu, dengan keyakinan
kekurangan yang tidak utamakan (mafdhul) dibandingkan yang diutamakan
(afdhol). Mereka mengartikan yang ada terkait masalah itu bahwa maksud
‘Al-A’dhom (Yang Maha Lebih Agung)’ dengan ‘AL-Adhim (Yang Maha Agung)’
bahwa semua nama-nama Allah itu agung. Ungkpan Abu Ja’far At-Tobari ‘Atsar
yang ada berbeda dalam penentuan nama Allah yang paling agung, menurutku
adalah. Bahwa semua pendapat benar, dimana tidak ada hadits yang menyatakan
itu nama Allah yang paling agung. Dan tidak ada yang lebih agung dari-Nya.
Seakan-akan beliau mengatakan, ‘Semua nama diantara nama-nama Allah itu
boleh disifati lebih agung. Sehingga kembali artinya ke yang agung (Adhim)
seperti tadi.’ Selesai
Sisi kedua, bahwa maksud hadits-hadits tadi menerangkan tambahan pahala
orang yang berdoa dengan nama itu.
Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata, ‘Ibnu Hibban berkata,
‘Pengagungan yang ada dalam hadits sesungguhnya maksudnya itu adalah
tambahan pahala orang yang berdoa dengan (nama) itu. sebagaimana yang
dibiarkan (hal itu) dalam Al-Qur’an. Maksudnya adalah tambahan pahala bagi
orang yang membacanya.’ Selesai
Sisi ketiga, maksud dengan nama yang paling agung adalah kondisi orang yang
berdoa. Yaitu mencakup semua orang yang berdoa kepada Allah Ta’ala dengan
nama apapun juga. Kalau dalam kondisi seperti itu.
Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata, ‘Dikatakan maksud nama yang
paling agung adalah semua nama diantara nama-nama Allah Ta’ala dimana
seorang hamba berdoa dengan sepenuh (hati) yang dalam pikirannya tidak ada
selain Allah Ta’ala. Maka barangsiapa yang melakukan seperti itu, maka akan
dikabulkan. Dinukilkan makna seperti ini dari Ja’far As-Sodiq dan Al-Junaid
dan selain dari keduanya. Selesai
Pendapat kedua,
Pendapat yang mengatakan bahwa Allah Ta’ala telah menyimpan ilmu penentuan
nama-Nya yang paling agung (ismullah Al-A’dhom) meskipun tidak seorangpun
dari makhluk mengetahuinya.
Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata, ‘Kelompok lain mengatakan, ‘Allah
Ta’ala menyimpan ilmu ismullah al-a’dhom dan tidak seorangpun makhluk
mengetahuinya.’ Selesai. Silahkan melihat ‘Fathul Bari, karangan Al-Hafidz
Ibnu Hajar, 11/224.
Pendapat ketiga,
Pendapat yang menetapkan dan menentukan nama Allah yang paling agung. Mereka
yang menentukan nama Allah yang paling agung berbeda pendapat menjadi empat
belas pendapat. Al-Hafidz Ibnu Hajar telah sebutkan di kitabnya ‘Fathul
Bari, 11/224, 225. Yaitu,
1.Huwa 2. Allah. 3. Allah Ar-Rahman Ar-Rohim. 4. Ar-Rahman Ar-Rohim AL-Hayyu
Al-Qoyyum. 5. AL-Hayyu Al-Qoyyum. 6. Al-Hannan AL-Mannan Badi’u As-Samawati
wal Ardzi Dzul Jalali Wal Ikrom AL-Hayyu Al-Qoyyum. 7. Badi’u As-Samawati
wal Ardzi Dzul Jalali Wal Ikrom. 8. Dzul Jalali Wal Ikrom. 9. Allahu Lailaha
Illa huwa Al-Ahad As-Somad Alladzi lam walid walam yulad walam yakun lahu
kufuwan ahad. 10. Rabbi rabbi. 11. Doanya Dzun nun di perut ikan ‘Lailaha
illa Anta Subhanaka Inni Kunta Minad dzolimin. 12. Huwallahu Allahul ladzi
laila illa huwa rabbil Arsyi AL-Adhim. 13. Tersembunyi di asma’ullah
al-husna. 14. Kalimatut tauhid ‘Lailaha illallahu’.
Syekh Al-Albany rahimahullah berkata, ‘Ketahuilah bahwa para ulama’ berbeda
pendapat tentang penentuan nama Allah yang paling agung (asmaullah
Al-A’dhom) menjadi empat belas pendapat. Yang mana disebutkan oleh Al-Hafidz
di ‘Fath’ menyebutkan masing-masing dengan dalilnya. Kebanyakan dalil yang
digunakan dari hadits. Sebagian dari pendapat hanya (berdasarkan) logika
semata yang tidak perlu ditengok. Seperti pendapat kedua belas, maka
dalilnya adalah bahwa seseorang memohon kepada Allah agar diajarkan
kepadanya ismullah Al-A’dhom. Kemudian dia bermimpi waktu tidur yaitu ‘Huwa
Allah, Allah, Allah Alladzi Lailaha Illa Huwa Rabbul Arsyi AL-Adhim’.
Diantara hadits-hadits itu ada yang shoheh, akan tetapi tidak jelas sisi
pengambilan dalilnya. Diantaranya ada yang mauquf (hanya sampai ke
Shahabat). Diantaranya ada yang jelas sisi pengambilan dalilnya, dan ini ada
dua bagian.
Bagian (hadits) shoheh shoreh (jelas) yaitu hadits Buraidah ‘Allahu Laila
Illah Huwa Al-Ahad As-Somad Lam Layid Walam Yulad’ Al-Hafidz berkomentar,
‘Ini adalah yang paling kuat dari sisi sanad yang ada dalam masalah ini. Ini
seperti apa yang disampaikan beliau rahimahullah. Dimana ditetapkan oleh
As-Syaukany di kitab ‘Tuhfatu Ad-Dzakirin, hal. 52. Dikeluarkan di kitab
‘Shoheh Abu Dawud, 1341.
Bagian lainnya adalah jelas (dalilnya) Cuma tidak shoheh. Sebagian telah
dikatakan dengan jelas oleh Al-Hafidz sisi lemahnya, seperti hadits dari
pendapat ketiga dari ‘Aisyah di Ibnu Majah, 3859 yaitu di kitab ‘Dhoif Ibnu
Majah, no. 841. Sebagian beliau mendiamkannya tidak menghasankan seperti
hadits pendapat kedelapan dari hadits Muadz bin Jabal di Tirmizi yaitu
dikeluarkan di kitab ‘Ad-Doifah, no. 4520.
Disana ada hadits lain yang jelas (sisi dalilnya) dimana Al-hafidz tidak
menyebutkannya, akan tetapi wahiyah (lembek), ia dikeluarkan di no. 2772,
2773, 27775. Silsilah AL-Ahadits Ad-Doifah Wal Maudhu’ah, 13/279.
Ketiga,
Mungkin yang lebih dekat dari pendapat-pendapat tersebut bahwa ismullah
Al-A’dhom itu adalah ‘Allah’ yaitu di dalamnya ada nama yang terkumpullan
untuk Allah Ta’ala yang menunjukkan semua nama-nama dan sifat-sifat-Nya
Ta’ala. Dimana nama yang tidak diperkenankan untuk selain Allah Ta’ala. Dan
ini adalah pendapat kebanyakan ahli ilmu.
Ibnu Qoyyim rahimahullah berkata, ‘Nama ‘Allah’ menunjukkan semua nama-nama
yang indah dan sifat yang mulya dengan tiga dalil. ‘Madarijus Salikin, 1/32.
Tiga dalil tersebut adalah almutobaqah (kesesuaian), tadhomun (kandungan)
dan al-luzum (keharusan).
Ibnu Amir Hajj AL-Hanfi rahimahullah berkata, ‘Dari Muhammad bin Al-Hasan
berkata, saya mendengar Abu Hanifah rahimahullah berkata, ‘Nama Allah yang
paling agung adalah ‘Allah’ ini adalaha pendapat Tohawiyah dan kebanyakan
dari para ulama’, serta kebanyakan ‘Arifin. Dari kitab ‘At-Taqrir Wa
At-Tahrir, 1/5.
Abu Al-Baqa’ Al-Fatuhi AL-Hambali rahimahullah berkata, ‘Ada dua faedah,
pertama bahwa nama ‘Allah’ adalah alam untuk Dzat. Khususs untuk-Nya maka
menyeluruh untuk semua nama-nama-Nya yang indah.
Kedua, bahwa ia adalah Asmaullah Al-A’dhom menurut kebanyakan ahli ilmu
dimana Dia mempunyai sifat untuk semua pujian.’ Syarkh AL-Kaukab AL-Munir,
hal. 4.
As-Syarbini As-Syafi’i rahimahullah berkata, ‘Menurut para peneliti bahwa ia
(Allah) adalah ismullah Al-A’dhom. Dan telah disebutkan dalam Al-Qur’an
Al-Aziz 2360 kali. ‘Mugni Al-Muhtaj Ila ma’rifati Alfadzi Al-Minhaj,
1/88-89.
Umar As-Asyqar rahimahullah berkata, ‘Yang nampak dari perbandingan diantara
nash-nash yang ada bahwa Ismullah Al-A’dhom adalah ‘Allah’. nama ini adalah
satu-satunya nama yang ada pada semua nash dari sabda Nabi sallalahu’alaihi
wa sallam yang ada terkait dengan ismullah Al-A’dhom. Diantara penguat bahwa
‘Allah’ adalah ismullah Al-A’dhom, bahwa nama ini terulang dalam Al-Qur’an
sebanyak (2697) sesuai dengan penghitungan dalam kitab ‘Al-Mu’jam
AL-Mufahros. Kata ‘Allahuma’ lima kali. Dimana nama lain yang merupakan
kekhususna untuk Allah Ta’ala yaitu ‘Ar-Rahman’ tidak disebutkan kecuali
lima puluh tujuh. Diantara yang menguatkan juga adalah isi dari nama ini
mengandung makna yang agung dan banyak. ‘Al-Aqidah Fillah, hal. 213.
Kemudian pada jenjang kedua dari sisi kekuatan bahwa ismullah Al-A’dhom
adalah ‘AL-hayyu Wal Qoyyum’ yaitu pendapat sekelompok para ulama’.
Diantaranya An-Nawawi dan dikuatkan oleh Syekh AL-Utsaimin rahimahullah.
Wallahu’alam .