Alhamdulillah
Apa
yang disebutkan penanya tentang masalah yang dikhawatirkan akibatnya, maka
saya katakan kepadanya, "Bergembiralah, karena akibatnya hanyala kebaikan.
Karena bisikan setan tidak diragukan lagi dihembuskan kepada orang-orang
beriman untuk merongrong akidah mereka yang lurus di hati mereka serta untuk
menimbulkan gangguan dalam jiwa dan pikiran untuk memperkeruh keimanan
mereka yang jernih, bahkan hendak memperkeruh kejernihan kehidupan mereka,
jika mereka beriman.
Apa
yang dia alami, bukanlah pertama kali yang menimpa orang beriman dan juga
bukan orang yang terakhir kali. Tapi hal itu akan terus terjadi selama di
dunia ada orang beriman. Kondisi ini juga pernah dialami para shahabat
radhiallahu anhum.
Dari
Abu Hurairah radhiallahu anhu, dia berkata, "Beberapa orang sahabat
mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, lalu mereka bertanya
kepadanya, 'Kami merasakan dalam diri kami apa yang terasa berat untuk kami
sampaikan."
Beliau bersabda, 'Apakah kalian telah mendapatkannya?'
Mereka berkata, 'Ya,' Beliau bersabda, 'Itulah tanda iman
yang nyata." (HR.Muslim)
Dalam Ash-Shahihain (Shahih Bukhari dan Muslim), juga diriwayatkan bahwa
Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
يأتي
الشيطان أحدكم فيقول من خلق كذا ؟ من خلق كذا ؟ حتى يقول من خلق ربك؟! فإذا
بلغه فليستعذ بالله ولينته
"Setan akan
mendatangi salah seorang di antara kalian, lalu dia akan bertanya, 'siapa
yang menciptakan ini, siapa yang menciptakan itu?' Hingga akhirnya dia
bertanya, 'Siapa yang menciptakan tuhanmu?' Jika sampai kepadanya hal
tersebut, maka hendaknya dia berlindung kepada Allah dan berhenti (tidak
meneruskan)."
Dari Ibnu Abbas
radhiallahu anhuma, sesungguhnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam didatangi
seseorang, lalu dia berkata, 'Sungguh aku merasakan dalam jiwaku yang
seandainya aku menjadi burung merpati lebih aku sukai daripada aku
mengucapkannya.' Maka Nabi shallallahu alaihi wa slalam bersabda,
الحمد لله الذي رد أمره إلى الوسوسة (رواه أبو داود)
"Segala puji bagi Allah yang hanya dapat menggoda orang mukmin berupa
bisikan." (HR. Abu Daud)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiah rahimahullah berkata dalam Kitab Al-Iman.
Seorang mukmin akan diuji dengan bisikan setan dan bisikan kekufuran yang
akan membuat dadanya sempit. Sebagaimana perkataan seorang shahabat, "Ya
Rasulullah, sesungguhnya salah seorang di antara kami mendapatkan dalam
dirinya yang sekiranya langit runtuh menimpa bumi, lebih dia sukai daripada
dia berbicara tentang hal tersebut." Maka beliau bersabda, "Itulah iman yang
nyata."
Dalam riwayat lain, ketika shahabat itu menyatakan dirinya berat mengatakan
hal tersebut, beliau bersabda, "Segala puji bagi Allah yang membuat setan
hanya dapat membisikkan (tidak dapat membuatnya kafir)." Maksudnya orang
mukmin itu merasakan bisikan tersebut di dada orang beriman sementara
dirinya sangat membencinya. Upayanya untuk mengusir bisikan tersebut dari
hatinya merupakan bentuk iman yang nyata, sebagaimana seorang mujahid yang
menghadapi musuh, maka dia akan melawannya hingga dia dapat mengalahkannya.
Ini merupakan jihad yang agung."
Kemudian beliau berkata, "Karena itu, ada di kalangan penuntut ilmu dan ahli
ibadah akan mengalami bisikan dan syubhat tersebut melebihi dari yang
lainnya, karena orang selainnya tidak menempuh syariat dan pedoman Allah,
akan tetapi dia menuruti hawa nafsunya dan lalai dari zikir kepada Tuhannya.
Dan itu yang diinginkan setan. Berbeda dengan orang yang menghadap Allah
dengan ilmu dan ibadah, maka mereka adalah musuh setan yang akan selalu
dikejar untuk mencegah mereka dari jalan Allah Ta'ala." (Dikutip dari
cetakan India, hal. 147)
Maka
saya katakana kepada sang penanya, "Jika telah jelas bahwa hal tersebut
merupakan bisikan dan keragu-raguan dari setan, maka berjihadlah dan
lawanlah. Ketahuilah, sungguh dia tidak akan dapat membuatmu celaka jika
engkau menunaikan kewajiban jihad kepadanya dan berpaling darinya serta
tidak lagi tunduk dan mengekor di belakangnya.
Sebagaimana sabda
Nabi shallallahu alaihi wa sallam,
إن
الله تجاوز عن أمتي ما وسوست به صدورها ما لم تعمل به أو تتكلم (متفق عليه)
"Sesungguhnya
Allah akan mengampuni umatku keragua-ruguan yang dibisikkan setan di dadanya
selama dia tidak mengerjakannya dan mengatakannya." (Muttafaq alaih)
Jika ditanyakan
kepada anda, "Apakah anda meyakini apa yang menjadi keragu-raguan anda?"
"Apakah anda menganggap hal itu sebagai kebenaran?" "Apakah
mungkin bagi anda untuk mencirikan Allah Subhaanahu wa ta'ala?" Lalu anda
berkata, "Kita tidak berhak membicarakan hal ini, maha suci Allah, ini semua
adalah dusta yang besar, lalu anda mengingkari dengan hati anda dan lisan
anda, dan anda orang yang paling menghindari dari hal itu, maka itu berarti
hanya sebatas bisikan keragu-raguan dan godaan yang sedang menimpa anda
serta jerat kesyirikan dari setan yang selalu menelusup tubuh anak Adam
melalui pembuluh darahnya agar membuat anda celaka dan mengaburkan agama
anda.
Karena itu, anda akan mendapatkan perkara-perkara remeh yang tidak
dipedulikan setan untuk dibisikkan dengan keraguan atau tuduhan. Anda
misalnya mendengar adanya kota yang besar dan penuh dengan penduduk di timur
dan di barat, tidak pernah dalam satu haripun timbul keraguan bahwa kota itu
sebenarnya tidak ada atau bahwa kota itu sebenarnya telah hancur dan tidak
layak huni serta tidak berpenghuni, dan semacamnya. Hal seperti itu tidak
mengundang setan untuk membisikkan keraguan padanya. Akan tetapi yang
menjadi perhatian besar setan adalah merusak keimanan seorang muslim. Dia
selalu berusaha dengan segala tipu dayanya untuk memadamkan cahaya ilmu dan
hidayah dan menjerumuskan seseorang dalam kegelapan syirik dan keraguan.
Nabi
shallallahu alaihi wa sallam telah menjelaskan kepada kita obat mujarab yang
mengandung kesembuhan, yaitu dengan sabdanya, "
فليستعذ
بالله ولينته
"Maka
berlindunglah kepada Allah, dan sudahilah."
Jika
seseorang menyudahi hal tersebut, dan melanjutkan penghambaannya kepada
Allah untuk memohon apa yang ada pada-Nya, maka atas kekuasaan Allah, hal
itu akan hilang. Maka berpalinglah dari segala bisikan yang mendatangi
hatimu dalam masalah ini. Beribadahlah kepada Allah, berdoa dan
mengagungkan-Nya. Maka, apa yang dibisikkan selama ini, bukanlah hakikat
nyata, akan tetapi hanyalah lintasan pikiran, keragu-raguan yang tidak ada
dasarnya.
Nasehat ini dapat disimpulkan sebagai berikut;
1-
Berlindung kepada Allah dan menghentikan sama sekali
persangkaan-persangkaan tersebut sebagaimana diperintahkan Nabi shallallahu
alaihi wa sallam.
2-
Berzikir kepada Allah dan mengendalikan jiwa agar tidak terus
menerus dalam keragu-raguan.
3-
Konsentrasi dan sungguh-sungguh dalam ibadah serta beramal
untuk menunaikan perintah Allah dan mencari ridhanya. Kapan saja ibadah
dilaksanakan dengan fokus, khusyu, dan nyata, maka hal itu akan mengalihkan
kita dari bisikan keraguan insya Allah.
4-
Banyak berlindung dan berdoa kepada Allah agar anda diberikan
keselamatan dalam masalah ini.
Saya mohon kepada Allah Ta'ala semoga anda diberikan
keselamatan dari segala keburukan.
Syekh Muhamad bin Saleh Al-Utsaimin, Fatawa wa Rasail, juz 1, hal. 57-60